Well, mungkin banyak yang bertanya-tanya istilah ini, Spinecerebellar Degeneration, atau yang sering disingkat SCD. Apaan sih SCD? Mungkin banyak yang tidak kenal istilah ini. Namun, jika saya sebut Spinocerebellar Ataxia atau SCA, semuanya pasti ber-oooh ria.
Ya, SCD adalah suatu penyakit yang tidak jelas penyebabnya (kemungkinan karena mutasi genetik atau keturunan) dan sampai sekarang belum diketahui bagaimana cara menyembuhkannya. Penyakit ini di Indonesia lebih dikenal dengan nama pendeknya, Ataxia, atau sering juga disebut Penyakit Degenerasi Saraf. Penyakit ini umumnya menyerang manusia pada usia muda sampai remaja. Penyakit ini menyebabkan degenerasi otak kecil (cerebellum) dan saraf tulang punggung manusia, sehingga memengaruhi sistem motorik penderita.
Otak kecil mengendalikan keseimbangan, dan saraf tulang belakang mengendalikan gerak refleks. Intinya, kedua bagian ini mengendalikan seluruh gerak aktif manusia yang dilakukan secara sadar. Lama kelamaan, penderita akan kehilangan keseimbangannya. Mereka akan sulit memperkirakan jarak. Pada tingkat lanjut, penderita tidak akan mengalami kesulitan menelan dan berbicara. Mereka akan menghabiskan waktu mereka di tempat tidur karena tubuh mereka tidak bisa lagi digerakkan sebagaimana mestinya.
Penyakit ini menjadi populer setelah dikenalkan oleh almarhumah Aya Kito (19 Juli 1962 - 23 Mei 1988) seorang penderita SCD dari Jepang. Dia adalah salah satu penderita SCD yang penyakitnya berkembang lebih pesat daripada penderita pada umumnya. Dia divonis menderita penyakit ini pada usia 15 tahun, dan dia sudah mengalami kesulitan berjalan pada usia 16 tahun. Dia sudah tidak bisa berjalan ketika dia berusia sekitar 19 tahun dan mulai sulit bicara pada usia 20-an awal. Dia meninggal pada usia 25 tahun ketika otak kecil dan saraf tulang belakangnya sudah berdegenerasi total, tidak memungkinkannya untuk bertahan hidup.
Namun, sebelum Aya meninggal, selama masa hidupnya, dia menulis buku harian yang akhirnya dibukukan dengan judul 1 Litre of Tears. Buku ini menginspirasi banyak orang di seluruh dunia, terutama tentang bagaimana dia berjuang melawan penyakitnya yang terus berkembang dengan pesat di setiap tarikan napasnya. Karena penyakit ini tidak memungkinkan Aya untuk bergerak normal, penyakit ini seperti penjara. Buku hariannya dimaksudkan sebagai alat pemantau bagi dokternya untuk mengawasi perkembangan penyakit Aya. Namun, akhirnya Aya justru curhat ke buku hariannya karena tekanan mental yang begitu berat.
1 Litre of Tears difilmkan dalam bentuk drama dengan judul yang sama dan diperankan oleh Erika Sawajiri. Nama keluarga Aya diganti menjadi Aya Ikeuchi. Drama tersebut sedikit diubah dari cerita aslinya untuk menambah unsur dramatis, di mana Aya harus bertahan terhadap serangan mental dari tatapan sebal teman-temannya setiap kali dia terlambat masuk kelas karena mobilitasnya yang terganggu. Aya juga harus dijauhi oleh kakak kelas yang disukainya hanya karena penyakit itu membuat Aya sulit berjalan lurus. Aya harus berhenti dari klub basket kesukaannya karena dia tidak bisa berlari. Di Indonesia, 1 Litre of Tears diadaptasi menjadi Buku Harian Nayla dengan cerita yang persis sama.
Dalam kebanyakan kasus, penderita SCD masih bisa hidup sampai usia 30-an. Namun, dalam kasus Aya, penyakit ini "membunuhnya" pada usia 25 tahun.
Saya sudah menonton film ini berkali-kali dan menghabiskan paling sedikit 2 bungkus tisu untuk membuang ingus setiap kali saya menontonnya. Film ini, bagi saya, adalah film motivasi yang paling luar biasa yang pernah saya tonton. Dari kisah-kisah orang-orang yang cacat, kisah Aya adalah kisah yang paling mengena di hati saya.
Sama seperti Aya, saya ingin menjadi seseorang yang dapat membantu orang lain. Karena itu, saya selalu fokus pada MLM yang saya jalankan ini. Bukan fanatik, hanya fokus. Saya tidak menderita SCD seperti Aya, tetapi saya memiliki visi yang sama. Di luar sana, banyak orang yang membutuhkan bantuan kita. Jika kita bisa membantu mereka, kenapa tidak? Saya tidak menderita SCD, karena itu saya pasti lebih bisa membantu orang lain daripada Aya.
Banyak orang yang mencela saya karena saya menjalankan MLM. Namun, setiap kali saya down, saya hanya mengingat kembali apa yang telah Aya Kito lakukan dan apa yang telah dihasilkannya sampai sekarang. Kita tidak boleh menyerah pada keadaan. Apapun kondisi kita, kita harus tetap maju. Mungkin kita sering menginginkan adanya mesin waktu untuk memutar kembali waktu ketika kita mengalami pengalaman yang pahit. Namun, sayangnya, itu tidak akan pernah terjadi. Yang bisa kita lakukan hanyalah bersiap atas apa yang akan menghampiri kita nantinya. So, keep fighting guys, don't lose to Aya :)
Selasa, 23 November 2010
Kamis, 04 November 2010
Manusia Tidak Bisa Bekerja Selamanya
Kemarin saya diundang untuk makan malam bersama keluarga mantan ibu kost saya. Sekarang saya tidak tinggal di kost-nya lagi, tetapi beliau tetap mengundang saya untuk merayakan pesta ulang tahun salah satu anak kost-nya. Berhubung waktunya bentrok dengan jam kerja saya, maka saya menolak dengan halus.
Sekarang saya bekerja sebagai seorang terapis akupunktur. Akupunktur-nya tidak menggunakan jarum, jadi saya tidak perlu takut salah tusuk. Dengan alat akupunktur terbaru yang diciptakan oleh perusahaan MLM saya, saya berkeliaran ke mana-mana untuk menotok orang yang sakit dan menyembuhkan orang banyak.
Mantan ibu kost saya ingin ditotok juga setelah mendengar penjelasan saya tentang kerjaan saya yang bentrok dengan acara makan malam bersama itu. Beliau memaksa saya untuk ikut makan malam saja, sekalian menotok beliau. Masalahnya saya sudah ada janji dengan rekan kerja saya pada jam yang sama sehingga saya tidak bisa ikut makan malam bersama itu. Mau tidak mau, saya membuat janji temu lain dengan mantan ibu kost saya itu.
Kejadian ini bukan pertama kalinya. Beliau sering mengadakan acara makan-makan pada Jumat malam, dan Jumat malam saya sudah ada jadwal tetap, sehingga tidak bisa diganggu gugat. Pertama kalinya beliau mendengar tentang kenyataan bahwa saya sudah bekerja sambil kuliah, beliau malah "mengkritik" saya lewat teman saya, "Ah, kayak orang sibuk aja. Kan masih kuliah, ya santai saja lah."
Saya tidak tahu apakah beliau masih ingat atau tidak, dan saya juga tidak ingat apakah saya pernah memberitahu beliau atau tidak, bahwa orangtua saya sekarang single parent. Mama saya harus bekerja membanting tulang untuk menyekolahkan ketiga anaknya. Biaya pendidikan yang paling tinggi ya, tentu saja, biaya pendidikan saya sebagai anak kuliah. Tidak hanya itu, saya sekarang jauh dari rumah, dan tentunya saya dituntut untuk me-manage keuangan dengan lebih baik lagi. Biaya hidup semakin naik dari tahun ke tahun. Semester satu, saya masih bisa bertahan hidup dengan Rp500.000-Rp750.000 per bulan untuk konsumsi di luar uang kost. Menginjak semester tiga sampai semester empat, uang jajan saya meningkat menjadi Rp750.000-Rp1.000.000 per bulannya. Sekarang, saya harus berusaha menekan pengeluaran karena pengeluaran sehari-hari saya saja sudah mencapai Rp1.000.000-Rp1.500.000 per bulan di luar uang kost.
Mungkin memang benar, saya bisa bersantai-santai dulu, baru mati-matian bekerja pada saat lulus kuliah nanti. Namun, saya orangnya pemikir, dan saya merasa sangat tidak tenang jika semua biaya kehidupan saya saya bebankan ke Mama saya. Mama sudah semakin berumur, dan tidak bisa bekerja selamanya. Sekarang umur Mama saya sudah kepala empat, artinya sebentar lagi sudah mendekati usia pensiun.
Mantan ibu kost saya adalah tipikal orangtua yang sangat memanjakan anaknya. Ditambah lagi kepribadian anak-anaknya yang sangat introvert dan tidak pernah mengutarakan ketidaksukaan mereka terhadap suatu hal sampai betul-betul mendesak, maka lengkap sudah. Mantan ibu kost saya selalu memberikan apapun yang diinginkan anak-anaknya dan anak-anak kostnya walaupun mereka tidak memintanya. Kesannya seperti seorang freak. Untuk seseorang yang tidak suka dimanja (seperti saya), hal-hal seperti ini sangat membuat risih.
Beberapa tahun lalu, ketika saya masih kost di sana, saya membuat takjub beliau dengan menyapu kamar dan memasang seprai baru sendiri. Saya baru menyadari bahwa hal yang amat sangat wajar bagi saya seperti menyapu kamar sendiri terasa sangat menakjubkan bagi beliau. Itu berarti anak-anaknya selama ini tidak pernah melakukan pekerjaan rumah tangga sehari-hari sendiri. Semuanya dilakukan pembantu. Saya tidak tahu apa yang beliau pikirkan, yang jelas saya merasa agak risih ketika beliau bertanya, "Kamarnya biar saya sapukan ya?" yang saya jawab dengan menggelengkan kepala dan berkata halus, "Gapapa tante, biar saya sendiri aja."
Bukannya saya selalu berpikir untuk melakukan segala sesuatunya sendirian. Ada kalanya kita perlu bantuan orang lain, ada kalanya kita harus melakukannya sendirian. Kalau bisa sendirian, kenapa tidak? Kalau memang harus dibantu orang lain, bukan berarti harus dibantu full. Saya tidak suka jika ada orang lain yang berusaha mengambil alih jobdesk saya dalam suatu pekerjaan. Jika memang dia ingin membantu, lakukanlah hal lain yang bisa mempermudah saya dalam mengerjakan sesuatu, bukan meringankan beban saya dengan ikut melakukan hal yang sama. Saya hanya memperbolehkan orang lain untuk mengerjakan hal yang sama dengan saya jika saya menghendakinya, dan tentunya jika orang itu mengiyakan.
Saya hanya berpikir seperti ini. Jika suatu hari nanti mantan ibu kost saya dan suaminya itu tidak bisa bekerja lagi, apakah mereka akan terus membayar pembantu untuk mengurusi kedua anak mereka yang sudah bisa dibilang dewasa? Apakah pembantunya harus mengikuti mereka ke manapun mereka pergi untuk memastikan keselamatan, kerapian, dan kebersihan mereka setiap saat?
Saya bekerja sambil kuliah, bukan berarti nilai kuliah saya turun. Tidak. IP saya bagus-bagus saja, dan saya selalu bisa mengambil full SKS setiap semester. Kenapa saya tidak menggunakan waktu luang saya untuk bekerja dan meringankan beban Mama saya? Walaupun hanya meringankan sedikit, setidaknya saya bisa mendapat tambahan uang jajan di luar passive income dari Mama, dan itu juga yang sangat Mama saya inginkan.
Sebenarnya simpel saja, apa yang saya lakukan ini demi masa depan saya. Jika suatu hari nanti Mama saya tidak bisa bekerja lagi, apakah saya harus menghabiskan rekening tabungan Mama untuk hidup saya? Tentu tidak. Saya tidak mengkritik orangtua yang selalu memanjakan anaknya, tetapi menurut saya, kalau bisa yang dikurangilah. Tidak perlu sampai memberikan anak sendiri sopir untuk diantar ke mana-mana, apalagi jika anaknya sudah dewasa. Lebih baik anak diberikan kesempatan untuk mencoba kendaraan umum sendiri sejak dini, dan dibiasakan melakukan segala sesuatunya sendiri, jangan terus-menerus ditemani. Dunia memang berbahaya, tetapi lebih bahaya lagi jika kelak Bumi dipenuhi oleh orang-orang manja yang tidak bisa hidup tanpa tunjangan dari orangtua mereka. Manusia toh tidak bisa bekerja selamanya kan?
Sekarang saya bekerja sebagai seorang terapis akupunktur. Akupunktur-nya tidak menggunakan jarum, jadi saya tidak perlu takut salah tusuk. Dengan alat akupunktur terbaru yang diciptakan oleh perusahaan MLM saya, saya berkeliaran ke mana-mana untuk menotok orang yang sakit dan menyembuhkan orang banyak.
Mantan ibu kost saya ingin ditotok juga setelah mendengar penjelasan saya tentang kerjaan saya yang bentrok dengan acara makan malam bersama itu. Beliau memaksa saya untuk ikut makan malam saja, sekalian menotok beliau. Masalahnya saya sudah ada janji dengan rekan kerja saya pada jam yang sama sehingga saya tidak bisa ikut makan malam bersama itu. Mau tidak mau, saya membuat janji temu lain dengan mantan ibu kost saya itu.
Kejadian ini bukan pertama kalinya. Beliau sering mengadakan acara makan-makan pada Jumat malam, dan Jumat malam saya sudah ada jadwal tetap, sehingga tidak bisa diganggu gugat. Pertama kalinya beliau mendengar tentang kenyataan bahwa saya sudah bekerja sambil kuliah, beliau malah "mengkritik" saya lewat teman saya, "Ah, kayak orang sibuk aja. Kan masih kuliah, ya santai saja lah."
Saya tidak tahu apakah beliau masih ingat atau tidak, dan saya juga tidak ingat apakah saya pernah memberitahu beliau atau tidak, bahwa orangtua saya sekarang single parent. Mama saya harus bekerja membanting tulang untuk menyekolahkan ketiga anaknya. Biaya pendidikan yang paling tinggi ya, tentu saja, biaya pendidikan saya sebagai anak kuliah. Tidak hanya itu, saya sekarang jauh dari rumah, dan tentunya saya dituntut untuk me-manage keuangan dengan lebih baik lagi. Biaya hidup semakin naik dari tahun ke tahun. Semester satu, saya masih bisa bertahan hidup dengan Rp500.000-Rp750.000 per bulan untuk konsumsi di luar uang kost. Menginjak semester tiga sampai semester empat, uang jajan saya meningkat menjadi Rp750.000-Rp1.000.000 per bulannya. Sekarang, saya harus berusaha menekan pengeluaran karena pengeluaran sehari-hari saya saja sudah mencapai Rp1.000.000-Rp1.500.000 per bulan di luar uang kost.
Mungkin memang benar, saya bisa bersantai-santai dulu, baru mati-matian bekerja pada saat lulus kuliah nanti. Namun, saya orangnya pemikir, dan saya merasa sangat tidak tenang jika semua biaya kehidupan saya saya bebankan ke Mama saya. Mama sudah semakin berumur, dan tidak bisa bekerja selamanya. Sekarang umur Mama saya sudah kepala empat, artinya sebentar lagi sudah mendekati usia pensiun.
Mantan ibu kost saya adalah tipikal orangtua yang sangat memanjakan anaknya. Ditambah lagi kepribadian anak-anaknya yang sangat introvert dan tidak pernah mengutarakan ketidaksukaan mereka terhadap suatu hal sampai betul-betul mendesak, maka lengkap sudah. Mantan ibu kost saya selalu memberikan apapun yang diinginkan anak-anaknya dan anak-anak kostnya walaupun mereka tidak memintanya. Kesannya seperti seorang freak. Untuk seseorang yang tidak suka dimanja (seperti saya), hal-hal seperti ini sangat membuat risih.
Beberapa tahun lalu, ketika saya masih kost di sana, saya membuat takjub beliau dengan menyapu kamar dan memasang seprai baru sendiri. Saya baru menyadari bahwa hal yang amat sangat wajar bagi saya seperti menyapu kamar sendiri terasa sangat menakjubkan bagi beliau. Itu berarti anak-anaknya selama ini tidak pernah melakukan pekerjaan rumah tangga sehari-hari sendiri. Semuanya dilakukan pembantu. Saya tidak tahu apa yang beliau pikirkan, yang jelas saya merasa agak risih ketika beliau bertanya, "Kamarnya biar saya sapukan ya?" yang saya jawab dengan menggelengkan kepala dan berkata halus, "Gapapa tante, biar saya sendiri aja."
Bukannya saya selalu berpikir untuk melakukan segala sesuatunya sendirian. Ada kalanya kita perlu bantuan orang lain, ada kalanya kita harus melakukannya sendirian. Kalau bisa sendirian, kenapa tidak? Kalau memang harus dibantu orang lain, bukan berarti harus dibantu full. Saya tidak suka jika ada orang lain yang berusaha mengambil alih jobdesk saya dalam suatu pekerjaan. Jika memang dia ingin membantu, lakukanlah hal lain yang bisa mempermudah saya dalam mengerjakan sesuatu, bukan meringankan beban saya dengan ikut melakukan hal yang sama. Saya hanya memperbolehkan orang lain untuk mengerjakan hal yang sama dengan saya jika saya menghendakinya, dan tentunya jika orang itu mengiyakan.
Saya hanya berpikir seperti ini. Jika suatu hari nanti mantan ibu kost saya dan suaminya itu tidak bisa bekerja lagi, apakah mereka akan terus membayar pembantu untuk mengurusi kedua anak mereka yang sudah bisa dibilang dewasa? Apakah pembantunya harus mengikuti mereka ke manapun mereka pergi untuk memastikan keselamatan, kerapian, dan kebersihan mereka setiap saat?
Saya bekerja sambil kuliah, bukan berarti nilai kuliah saya turun. Tidak. IP saya bagus-bagus saja, dan saya selalu bisa mengambil full SKS setiap semester. Kenapa saya tidak menggunakan waktu luang saya untuk bekerja dan meringankan beban Mama saya? Walaupun hanya meringankan sedikit, setidaknya saya bisa mendapat tambahan uang jajan di luar passive income dari Mama, dan itu juga yang sangat Mama saya inginkan.
Sebenarnya simpel saja, apa yang saya lakukan ini demi masa depan saya. Jika suatu hari nanti Mama saya tidak bisa bekerja lagi, apakah saya harus menghabiskan rekening tabungan Mama untuk hidup saya? Tentu tidak. Saya tidak mengkritik orangtua yang selalu memanjakan anaknya, tetapi menurut saya, kalau bisa yang dikurangilah. Tidak perlu sampai memberikan anak sendiri sopir untuk diantar ke mana-mana, apalagi jika anaknya sudah dewasa. Lebih baik anak diberikan kesempatan untuk mencoba kendaraan umum sendiri sejak dini, dan dibiasakan melakukan segala sesuatunya sendiri, jangan terus-menerus ditemani. Dunia memang berbahaya, tetapi lebih bahaya lagi jika kelak Bumi dipenuhi oleh orang-orang manja yang tidak bisa hidup tanpa tunjangan dari orangtua mereka. Manusia toh tidak bisa bekerja selamanya kan?
Senin, 06 September 2010
10 Keys to Success
Hai readers, setelah ber-melankolis ria dengan kisahnya seorang Agnes Santoso, mari kita kembali ke pembahasan mengenai kesuksesan.
Kemarin saya mendapatkan sharing dari seorang rekan kerja saya mengenai 10 kunci yang harus Anda pegang ketika Anda mengejar sebuah kesuksesan. 10 kunci ini harus selalu Anda pegang, atau Anda tidak akan ke mana-mana, sekeras apapun Anda berusaha. Kunci-kunci ini tidak luput dari "senjata" yang harus selalu Anda pegang dalam melakukan suatu hal, yaitu impian Anda.
1. Prayer (Doa)
Ora et Labora, berdoa sambil bekerja. Tentunya Anda tidak asing lagi dengan istilah yang satu ini. Sekeras apapun Anda bekerja, tanpa bimbingan dari Tuhan, Anda tidak akan pernah meraih kesuksesan. Semua yang terjadi dalam kehidupan kita adalah atas bimbingan dan kehendak Tuhan. Tidak ada yang namanya kebetulan, semuanya sudah digariskan dalam kehidupan Anda, tinggal bagaimana Anda menjalankan hidup Anda dan menghiasi hidup itu.
2. Habit (Kebiasaan)
Banyak orang, ketika mendengar kisah tentang seorang yang sukses, biasanya akan berkata begini, "Ah, itu kan dia, saya tidak akan bisa". Sebenarnya permasalahannya bukan pada apakah Anda bisa atau tidak, tetapi lebih kepada kebiasaan. Banyak di antara kita yang bekerja keras setiap hari dan hampir tidak mengenal kata lelah. Mengapa mereka bisa seperti itu? Jawabannya adalah kebiasaan. Mereka sudah terbiasa untuk bekerja seperti itu. Karena itu, mulai sekarang, cobalah Anda menumbuhkan kebiasaan yang baik untuk mengembangkan diri Anda.
3. Discipline (Disiplin)
Tidak bisa dipungkiri, di dunia kerja, kedisiplinan adalah segalanya. Waktu tidak akan pernah melambat maupun berhenti. Jika Anda ingin sukses, lakukan segala sesuatunya sesuai dengan jadwalnya. Jangan pernah terlambat menghadiri suatu pertemuan, karena keterlambatan akan memengaruhi integritas dan kredibilitas Anda di hadapan rekan-rekan kerja dan calon rekan kerja Anda. Walaupun Indonesia terkenal sebagai negara yang ngaret, Anda tidak harus selalu mengikuti budaya ngaret itu, kan?
4. Team (Tim)
Anda tidak dapat melakukan segalanya sendirian. Sekalipun Anda merasa Anda adalah orang yang paling tepat untuk menjalankan segala sesuatunya, jangan pernah berpikir bahwa Anda akan dapat menyelesaikan semuanya. Anda harus memiliki tim kerja atau suatu komunitas yang dapat membantu Anda. Sebuah tim akan selalu mempermudah kerja Anda, betapapun Anda tidak menyukai bekerja bersama orang lain. Jarak 1 km, jika diestafet dengan 1000 peserta, akan dapat dicapai dalam hitungan detik. Satu orang hanya perlu berjalan 1 meter. Artinya, dengan bekerja bersama orang lain, Anda dapat membagi sedikit beban Anda kepada orang lain, sehingga kerja Anda akan menjadi lebih ringan daripada jika Anda bekerja sendirian.
5. Powerful Memory (Kenangan Kuat)
Selalu ingat kenangan Anda yang terkuat, yang paling ingin Anda pertahankan dalam benak Anda selama mungkin. Kenangan Anda ini akan membantu Anda untuk terus bangkit di kala Anda down. Mungkin tidak harus sebuah kenangan di masa lalu. Anda dapat juga mengonstruksi sendiri kenangan itu dalam bentuk impian-impian Anda, sesuatu yang sangat ingin Anda wujudkan di masa depan kelak.
6. Affirmation (Afirmasi)
Afirmasi akan sangat membantu Anda untuk membangun sebuah keyakinan dalam diri Anda. Jika Anda sudah mengafirmasi suatu hal, Anda akan menjadi yakin dan terpacu dalam mencapai hal tersebut. Afirmasi adalah harga mati bagi seseorang yang ingin mencapai kesuksesan. Afirmasi ini dapat berwujud apa saja, misalnya Anda foto bersama mobil mewah yang sangat ingin Anda miliki. Di foto itu, pasangkan target kapan Anda harus mendapatkan mobil tersebut. Mengapa target? Bukankah target bisa meleset? Tenang saja, justru jika target yang sudah Anda tetapkan sebelumnya belum terpenuhi, Anda akan semakin terpacu untuk meraih impian Anda.
7. Incantation (Mantra)
Ini bukan ilmu nujum atau guna-guna, readers. Saya tidak mengajarkan Anda menjadi praktisi ilmu hitam di sini. Anda harus menetapkan suatu hal yang dapat memicu Anda untuk melakukan suatu hal. Afirmasi tidak akan ada gunanya jika Anda tidak memiliki suatu "mantra" untuk melaksanakan sesuatu. Misalnya, jika Anda ingin mendapatkan mobil mewah, Anda dapat mengulang-ulang suatu kalimat yang mengafirmasi keinginan Anda itu selama beberapa menit setiap hari. Lama-kelamaan, afirmasi itu akan terpatri dalam benak Anda dan Anda akan melakukan apa saja untuk mewujudkannya.
8. Promise to the Beloved (Janji untuk Orang yang Dicintai)
Afirmasi dan mantra belum cukup. Impian-impian Anda tidak akan lepas dari orang-orang yang Anda cintai. Even the cruelest murderer has a spark of love deep within his/her heart. Jika Anda ingin meraih kesuksesan, berjanjilah secara langsung kepada orang-orang yang Anda cintai, janji apa saja, entah janji untuk membelikan mobil baru, rumah baru, dsb. Jika Anda sudah berjanji secara langsung, Anda akan sulit untuk berbelok dari jalan Anda menuju kesuksesan.
9. Fear (Ketakutan)
Jadikan ketakutan terbesar Anda sebagai motivasi untuk meraih impian-impian Anda. Bukan ketakutan seperti "saya takut gelap" dan lain sebagainya, tetapi lebih pada ketakutan yang Anda alami ketika, misalnya, Anda bertemu untuk terakhir kalinya dengan pasangan Anda. Mungkin Anda takut bahwa Anda tidak bisa lagi melihat wajah tersenyum orangtua Anda, atau Anda takut nantinya Anda harus jadi gelandangan karena di-PHK oleh perusahaan Anda saat Anda sedang mengalami kesulitan keuangan, dan ketakutan-ketakutan lainnya.
10. Health (Kesehatan)
Jaga kesehatan Anda. Semua kesuksesan Anda nantinya tidak akan ada gunanya jika Anda harus menggunakan semua harta Anda untuk merawat diri Anda sendiri beberapa tahun mendatang. Tidak lucu kan jika Anda sudah mendapatkan kesuksesan sebagai, misalnya, musisi terkenal di seluruh dunia, tetapi stroke membuat Anda tidak bisa lagi tampil di atas panggung, atau Anda sebagai direktur yang lumpuh total. Perhatikan baik-baik kesehatan Anda. Jika Anda sakit, bukan hanya Anda yang repot, tetapi juga orang-orang yang dekat dengan Anda, karena mereka juga harus berusaha agar Anda sehat kembali.
Kemarin saya mendapatkan sharing dari seorang rekan kerja saya mengenai 10 kunci yang harus Anda pegang ketika Anda mengejar sebuah kesuksesan. 10 kunci ini harus selalu Anda pegang, atau Anda tidak akan ke mana-mana, sekeras apapun Anda berusaha. Kunci-kunci ini tidak luput dari "senjata" yang harus selalu Anda pegang dalam melakukan suatu hal, yaitu impian Anda.
1. Prayer (Doa)
Ora et Labora, berdoa sambil bekerja. Tentunya Anda tidak asing lagi dengan istilah yang satu ini. Sekeras apapun Anda bekerja, tanpa bimbingan dari Tuhan, Anda tidak akan pernah meraih kesuksesan. Semua yang terjadi dalam kehidupan kita adalah atas bimbingan dan kehendak Tuhan. Tidak ada yang namanya kebetulan, semuanya sudah digariskan dalam kehidupan Anda, tinggal bagaimana Anda menjalankan hidup Anda dan menghiasi hidup itu.
2. Habit (Kebiasaan)
Banyak orang, ketika mendengar kisah tentang seorang yang sukses, biasanya akan berkata begini, "Ah, itu kan dia, saya tidak akan bisa". Sebenarnya permasalahannya bukan pada apakah Anda bisa atau tidak, tetapi lebih kepada kebiasaan. Banyak di antara kita yang bekerja keras setiap hari dan hampir tidak mengenal kata lelah. Mengapa mereka bisa seperti itu? Jawabannya adalah kebiasaan. Mereka sudah terbiasa untuk bekerja seperti itu. Karena itu, mulai sekarang, cobalah Anda menumbuhkan kebiasaan yang baik untuk mengembangkan diri Anda.
3. Discipline (Disiplin)
Tidak bisa dipungkiri, di dunia kerja, kedisiplinan adalah segalanya. Waktu tidak akan pernah melambat maupun berhenti. Jika Anda ingin sukses, lakukan segala sesuatunya sesuai dengan jadwalnya. Jangan pernah terlambat menghadiri suatu pertemuan, karena keterlambatan akan memengaruhi integritas dan kredibilitas Anda di hadapan rekan-rekan kerja dan calon rekan kerja Anda. Walaupun Indonesia terkenal sebagai negara yang ngaret, Anda tidak harus selalu mengikuti budaya ngaret itu, kan?
4. Team (Tim)
Anda tidak dapat melakukan segalanya sendirian. Sekalipun Anda merasa Anda adalah orang yang paling tepat untuk menjalankan segala sesuatunya, jangan pernah berpikir bahwa Anda akan dapat menyelesaikan semuanya. Anda harus memiliki tim kerja atau suatu komunitas yang dapat membantu Anda. Sebuah tim akan selalu mempermudah kerja Anda, betapapun Anda tidak menyukai bekerja bersama orang lain. Jarak 1 km, jika diestafet dengan 1000 peserta, akan dapat dicapai dalam hitungan detik. Satu orang hanya perlu berjalan 1 meter. Artinya, dengan bekerja bersama orang lain, Anda dapat membagi sedikit beban Anda kepada orang lain, sehingga kerja Anda akan menjadi lebih ringan daripada jika Anda bekerja sendirian.
5. Powerful Memory (Kenangan Kuat)
Selalu ingat kenangan Anda yang terkuat, yang paling ingin Anda pertahankan dalam benak Anda selama mungkin. Kenangan Anda ini akan membantu Anda untuk terus bangkit di kala Anda down. Mungkin tidak harus sebuah kenangan di masa lalu. Anda dapat juga mengonstruksi sendiri kenangan itu dalam bentuk impian-impian Anda, sesuatu yang sangat ingin Anda wujudkan di masa depan kelak.
6. Affirmation (Afirmasi)
Afirmasi akan sangat membantu Anda untuk membangun sebuah keyakinan dalam diri Anda. Jika Anda sudah mengafirmasi suatu hal, Anda akan menjadi yakin dan terpacu dalam mencapai hal tersebut. Afirmasi adalah harga mati bagi seseorang yang ingin mencapai kesuksesan. Afirmasi ini dapat berwujud apa saja, misalnya Anda foto bersama mobil mewah yang sangat ingin Anda miliki. Di foto itu, pasangkan target kapan Anda harus mendapatkan mobil tersebut. Mengapa target? Bukankah target bisa meleset? Tenang saja, justru jika target yang sudah Anda tetapkan sebelumnya belum terpenuhi, Anda akan semakin terpacu untuk meraih impian Anda.
7. Incantation (Mantra)
Ini bukan ilmu nujum atau guna-guna, readers. Saya tidak mengajarkan Anda menjadi praktisi ilmu hitam di sini. Anda harus menetapkan suatu hal yang dapat memicu Anda untuk melakukan suatu hal. Afirmasi tidak akan ada gunanya jika Anda tidak memiliki suatu "mantra" untuk melaksanakan sesuatu. Misalnya, jika Anda ingin mendapatkan mobil mewah, Anda dapat mengulang-ulang suatu kalimat yang mengafirmasi keinginan Anda itu selama beberapa menit setiap hari. Lama-kelamaan, afirmasi itu akan terpatri dalam benak Anda dan Anda akan melakukan apa saja untuk mewujudkannya.
8. Promise to the Beloved (Janji untuk Orang yang Dicintai)
Afirmasi dan mantra belum cukup. Impian-impian Anda tidak akan lepas dari orang-orang yang Anda cintai. Even the cruelest murderer has a spark of love deep within his/her heart. Jika Anda ingin meraih kesuksesan, berjanjilah secara langsung kepada orang-orang yang Anda cintai, janji apa saja, entah janji untuk membelikan mobil baru, rumah baru, dsb. Jika Anda sudah berjanji secara langsung, Anda akan sulit untuk berbelok dari jalan Anda menuju kesuksesan.
9. Fear (Ketakutan)
Jadikan ketakutan terbesar Anda sebagai motivasi untuk meraih impian-impian Anda. Bukan ketakutan seperti "saya takut gelap" dan lain sebagainya, tetapi lebih pada ketakutan yang Anda alami ketika, misalnya, Anda bertemu untuk terakhir kalinya dengan pasangan Anda. Mungkin Anda takut bahwa Anda tidak bisa lagi melihat wajah tersenyum orangtua Anda, atau Anda takut nantinya Anda harus jadi gelandangan karena di-PHK oleh perusahaan Anda saat Anda sedang mengalami kesulitan keuangan, dan ketakutan-ketakutan lainnya.
10. Health (Kesehatan)
Jaga kesehatan Anda. Semua kesuksesan Anda nantinya tidak akan ada gunanya jika Anda harus menggunakan semua harta Anda untuk merawat diri Anda sendiri beberapa tahun mendatang. Tidak lucu kan jika Anda sudah mendapatkan kesuksesan sebagai, misalnya, musisi terkenal di seluruh dunia, tetapi stroke membuat Anda tidak bisa lagi tampil di atas panggung, atau Anda sebagai direktur yang lumpuh total. Perhatikan baik-baik kesehatan Anda. Jika Anda sakit, bukan hanya Anda yang repot, tetapi juga orang-orang yang dekat dengan Anda, karena mereka juga harus berusaha agar Anda sehat kembali.
Senin, 30 Agustus 2010
"Papa Sering Telat Makan"
Agnes Santoso, seorang mahasiswi kedokteran sebuah universitas swasta di Jakarta. Agnes masih begitu muda, baru berusia 21 tahun, tetapi jangan main-main dengan gadis satu ini.
Agnes juga sama seperti saya, seorang pebisnis MLM Tianshi. Peringkat Agnes bisa dibilang belum terlalu tinggi di mata orang awam, baru saja kemarin impact *6. Namun, di balik sosoknya yang kecil mungil, percaya atau tidak, Agnes telah meraih bonus yang setara jumlahnya dengan seorang distributor *7 dan *8 Tianshi, Rp15.400.000. Bayangkan. Bagi seorang mahasiswi, uang sebanyak itu akan digunakan untuk apa? Walaupun Agnes seorang perempuan, tetapi setidaknya uang sebanyak itu baru akan habis kira-kira dua bulan lagi, dan saya rasa Agnes tidak akan tinggal diam walaupun sudah mendapatkan bonus sebesar itu.
Mungkin Anda bertanya-tanya, bagaimana bisa Agnes mendapatkan grup yang begitu bersemangat sehingga bonusnya sebesar itu? Sebenarnya, seorang Agnes Santoso belum memiliki partner yang cukup aktif dalam menjalankan bisnis ini. Bonus sebesar itu adalah hasil kerja kerasnya sendiri. Lho? Koq bisa? Berikut cerita gadis mungil ini pada sesi dream sharing NDT (Network Development Training) Unicore pada 29 Agustus 2010 kemarin.
Agnes berasal dari keluarga yang sangat mapan. Dia berasal dari Nias. Selama 15 tahun pertama hidupnya, Agnes hidup berkecukupan. Nilai-nilai Agnes selalu di atas rata-rata. Dia selalu ranking tiga besar di sekolahnya. Namun, Maret 2005, sebuah tragedi mengerikan mengubah hidupnya untuk selamanya.
Gempa berkekuatan 8,2 skala Richter mengguncang Nias pada 28 Maret 2005 pukul 23.09 WIB. Ibu dan kedua adik Agnes (Alfred dan Alicia) meninggal dalam bencana itu. Agnes bahkan masih sempat mendengar suara ibunya beberapa jam sebelum gempa. Ibunya berjanji akan meneleponnya (saat itu Agnes berada di Jakarta) pukul 23.00.
Namun, tidak pernah ada telepon dari ibunya tersayang. Agnes kehilangan hampir seluruh keluarganya. Ayahnya patah kaki dan harus berobat ke luar negeri selama sebulan. Agnes tidak pernah melupakan saat-saat itu, saat-saat ketika dia tidak bisa lagi mendengar suara ibunya yang sangat dicintainya.
Alfred, adik laki-laki Agnes, pernah berjanji kepada Agnes bahwa mereka akan kuliah di Jakarta bersama. Hal itu tidak akan pernah terwujud. Sebelum dapat mewujudkan impiannya untuk kuliah bersama kakak sekaligus saingan terberatnya dalam hal akademis, Alfred telah berpulang kepada penciptanya.
Alicia, adik perempuan Agnes yang paling kecil, sering mengadu pada Agnes ketika Alfred menjahilinya. Ketika Agnes berangkat ke Jakarta, Agnes berjanji untuk membelikan Alicia buku gambar. Namun, keinginan Agnes untuk menyenangkan adik bungsunya itu juga tidak akan pernah terwujud. Alicia juga telah pergi meninggalkan Agnes untuk selamanya.
Yang paling membuat Agnes berduka adalah kehilangan ibunya yang selama ini selalu memperhatikannya. Agnes tidak pernah lagi bisa mendengar suara ibunya, tidak bisa lagi menerima telepon dari ibunya, dan tidak akan pernah mendengar omelan-omelan ibunya lagi. Agnes membenci saat-saat dia diomeli ibunya ketika nilai sekolahnya turun. Namun, sekarang, Agnes begitu merindukan omelan ibunya.
Agnes membenci ayahnya. Menurut Agnes, ayahnya hanya bisa memberikannya uang, uang, dan uang. Ayahnya tidak pernah menelepon hanya untuk sekadar menanyakan kabar Agnes, bagaimana kuliahnya, dan lain sebagainya seperti yang pernah dilakukan ibunya. Setelah tiga tahun berlalu sejak bencana itu, ayah Agnes malah dikabarkan akan menikah lagi. Agnes semakin membenci ayahnya, bahkan menuntut agar ayahnya memberikan harta warisan almarhum ibunya kepada Agnes saja.
Agnes bahkan sempat menghujat Tuhan dan menuntut agar ibu dan saudara-saudaranya dikembalikan. Agnes ingin ayahnya mati saja sebagai ganti ibu dan adik-adiknya yang sangat dikasihinya.
Namun, Agnes tidak mengetahui kenyataan bahwa selama ini ayahnya begitu menyayangi dirinya. Setelah sembuh dari patah kakinya, ayah Agnes bekerja membanting tulang demi membiayai kuliah Agnes. Setiap harinya, ayah Agnes terlambat makan, dan setiap harinya pula ayah Agnes hanya makan nasi padang. Hanya pada hari Kamis saja ayah Agnes makan nasi soto. Setiap hari ayah Agnes harus jaga toko. Tubuhnya yang dulu tegap, kini lemah lunglai. Uban mulai bermunculan di kepala ayah Agnes. Ayah Agnes juga mulai sakit-sakitan dan gampang masuk angin.
Agnes baru mengetahui kenyataannya ketika salah satu keluarganya mengabarkan bahwa ayah Agnes tidak pernah punya semangat hidup lagi sejak tragedi itu merenggut nyawa hampir seluruh anggota keluarganya. Satu-satunya alasan ayah Agnes masih terus bertahan hidup adalah untuk melihat Agnes diwisuda, lulus kuliah, dan jadi orang sukses.
Saat itulah Agnes menyadari semua kesalahannya. Selama ini dia hanya menuntut, menuntut, dan menuntut. Agnes ingin ayahnya meneleponnya dan menanyakan kabarnya, tetapi dia sendiri tidak pernah berkeinginan untuk menelepon ayahnya. Akhirnya, Agnes bertekad, dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk membahagiakan ayahnya, satu-satunya orangtua yang tersisa baginya, orangtua yang dititipkan Tuhan padanya untuk dibahagiakan oleh Agnes.
Di Jakarta, Agnes hidup bersama keluarganya yang lain. Mereka tidak membuat kondisi Agnes semakin membaik, apalagi dengan kenyataan bahwa saat ini Agnes sedang berjuang untuk menebus impiannya di MLM Tianshi. Seringkali Agnes harus kehujanan dan kepanasan ketika berkeliling ke berbagai tempat dengan sepeda motornya. Dia harus rela terkunci di luar dan menumpang tidur di rumah tetangga ketika dia pulang terlalu malam. Ketika Agnes sakit, bukannya membantu Agnes, keluarga Agnes malah menyalahkan Agnes dengan menegurnya karena sering pulang malam-malam.
Agnes menjalankan MLM bersama pacarnya. Selama pacaran, Lukas, pacar Agnes, tidak diterima dengan baik oleh keluarganya. Mereka menganggap Lukas hanya jago makan dan tidak bisa apa-apa. Namun, Agnes dan Lukas tetap tegar. Mereka menjalani bisnis ini bersama-sama.
Agnes memimpikan dirinya bisa menjadi seperti remaja lain, yang selalu ngapel setiap malam minggu bersama pasangan mereka, jalan-jalan ke mal untuk shopping, bergosip dengan wanita-wanita seusianya, dan lain-lain. Namun, demi membahagiakan ayahnya yang dulu dibencinya setengah mati, Agnes mengabaikan segalanya. Dia harus prospecting setiap hari, mengabaikan kenyataan bahwa sebetulnya dia masih bisa menikmati hidup enak seperti remaja lain. Kalau shopping, Agnes tidak pernah pergi ke mal, tetapi dia malah harus pergi ke stockist untuk belanja produk-produk pesanan prospeknya. Agnes baru bisa meluangkan waktunya untuk nonton di bioskop bersama pacarnya setelah enam bulan pacaran.
Agnes belum memiliki frontline yang benar-benar aktif, tetapi dia tidak mengeluh. Dia menjalankan segalanya sendirian, hanya didukung oleh pacarnya Lukas yang satu visi dengannya. Semua yang Agnes lakukan hanya demi satu impiannya, dia ingin membahagiakan ayahnya. Setiap penolakan yang dialami Agnes tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan betapa besarnya impian Agnes. Agnes hanya bertekad untuk membahagiakan ayahnya sebelum segalanya terlambat, sebelum ayahnya juga pergi meninggalkan dirinya untuk selamanya. Dan lewat bisnis MLM ini pula, Agnes telah menemukan jalan tercepat untuk membahagiakan ayahnya.
Walaupun peringkat Agnes baru *6 Excel, tetapi dia telah memiliki kualitas leadership yang setara dengan seorang Director seperti Bapak Louis Tendean (peringkat tertinggi se-Asia Tenggara, Director 4 Diamond). Dengan usaha seperti ini, tidaklah mengherankan jika tahun depan terdengar berita bahwa seorang Agnes Santoso telah menerima reward mobil mewah, kapal pesiar, pesawat terbang, dan villa dari bisnis Tianshi. Berjuanglah Agnes! MARI KITA TEBUS IMPIAN KITA BERSAMA TIENS DAN UNICORE!
Minggu, 29 Agustus 2010
Zat Kitin dan Chitosan
Kitin (C8H13O5N)n (dalam Bahasa Inggrisnya disebut Chitin (baca: kaitin)) adalah polimer berantai panjang dari asetilglukosamin-N, sebuah turunan dari glukosa. Zat ini ditemukan di banyak tempat di seluruh dunia. Zat kitin adalah komponen utama dari dinding sel jamur, exoskeleton (kerangka luar) dari arthropoda seperti crustacea (udang-udangan seperti kepiting dan udang) dan serangga, serta mulut bangsa chepalopoda, termasuk cumi-cumi dan gurita (mulut bangsa cumi-cumi ini mirip dengan paruh burung nuri yang miring, dan mulut ini sangat keras). Kitin sebanding dengan selulosa polisakarida dan protein keratin. Meskipun keratin adalah protein, bukan karbohidrat seperti kitin, kitin dan keratin memiliki struktur yang sama. Kitin juga telah terbukti bermanfaat untuk keperluan medis dan beberapa industri. Kali ini saya akan membahas mengenai fungsi kitin dalam dunia medis.
Kitin bersifat tidak larut dalam air. Tentu saja, jika zat kitin larut dalam air, maka kepiting, udang, dan bangsa udang-udangan lainnya akan menjadi botak karena kerangka mereka terkikis oleh air. Karena tidak larut dalam air, zat kitin ini tidak boleh masuk dalam tubuh, karena akan terjadi sedimentasi. Dalam keperluan medis, kitin ini digunakan untuk mempercepat penyembuhan luka luar, walaupun lebih banyak tenaga medis yang lebih memilih menggunakan obat luka seperti Betadine dan perban bergulung-gulung. Lho? Kok begitu?
Masalah terbesar dalam penggunaan kitin adalah sifatnya yang tidak larut dalam air ini. Kitin biasanya berbentuk bubuk. Penggunaannya biasanya dengan cara ditaburkan pada luka terbuka yang sudah dibersihkan. Luka luar ini bukan berarti luka bacok sedalam beberapa senti. Maksud luka luar adalah luka yang benar-benar luar, misalnya seperti lecet yang sampai berdarah. Ketika kitin ditaburkan pada luka terbuka, kitin akan bersenyawa dengan trombosit (keping darah) pada luka Anda dan mempercepat proses pembekuan darah dan pembentukan benang-benang fibrin.
Kalau hanya membantu pembentukan fibrin, tidak masalah. Namun, begitu kitin ini bersenyawa dengan zat-zat cair yang terkandung dalam darah di luka Anda, entah nanah, keringat, dan lain sebagainya, kitin ini akan mengerak. Selama mengerak, kitin akan membuat Anda sulit menggerakkan bagian kulit Anda yang terluka. Nantinya, kitin akan terlepas bersama kerak bekuan darah Anda dan kulit Anda akan terlihat seperti baru. Karena inilah kitin tidak boleh dimasukkan dalam tubuh. Bayangkan kalau kitin ini mengerak di jantung Anda yang berlubang. Jika keraknya terlepas, kerak akan sulit dikeluarkan dari tubuh sehingga terjadi semacam sedimentasi.
Kitin ini sebenarnya dapat digunakan dalam berbagai jenis luka luar, tetapi jika Anda menggunakannya pada persendian yang banyak bergerak seperti lutut Anda, proses penyembuhan luka akan menjadi sangat lambat. Kerak yang sudah terbentuk oleh kitin tadi nantinya akan retak sebelum waktunya karena Anda sering bergerak, dan sensasinya... Wow! Setiap kali Anda bergerak dengan kerak kitin pada kulit persendian Anda, Anda akan merasa sangat sakit, bahkan mungkin lebih sakit daripada ketika Anda terluka sebelumnya. Jika Anda ingin menghindari sakit, jangan bergerak sampai kerak kitin benar-benar sudah terbentuk sempurna. Kerak kitin yang sempurna akan menjadi cukup fleksibel sehingga tidak retak ketika Anda bergerak. Masalahnya, seringkali kita terlalu sibuk sehingga kitin ini mau tidak mau tetap retak juga karena proses pengerakannya belum sempurna.
Jika luka sudah mulai sembuh, kitin ini akan terkikis dengan sendirinya seperti layaknya kerak darah beku di kulit Anda. Jangan pernah mencoba membersihkan kitin dengan air dan menggosoknya! Salah-salah, luka Anda akan terbuka lagi, dan ingat, kitin tidak larut dalam air. Ketika bertemu dengan air, zat kitin justru semakin mengeras seperti semen.
Lalu bagaimana? Jika kitin tidak bisa digunakan untuk luka dalam seperti maag kronis atau lecet pada usus, bagaimana caranya mempercepat penyembuhan organ dalam tubuh Anda?
Teknologi kedokteran yang modern telah menemukan caranya. Zat kitin dimodifikasi sedemikian rupa sehingga terbentuklah zat bernama Chitosan. Chitosan ini memiliki properti yang sama seperti zat kitin dalam hal menyembuhkan luka, zat chitosan bersifat sedikit larut dalam air.
Karena itu, chitosan dapat masuk ke dalam tubuh dan membantu penyembuhan luka dalam tubuh Anda. Chitosan juga dapat mengikat zat-zat racun dalam darah sehingga dapat membantu proses detoksifikasi. Selain itu, sifatnya yang sedikit larut dalam air membuat zat chitosan dapat hancur sedikit demi sedikit dalam tubuh dan terbuang lewat kotoran dan urin, tidak seperti kitin yang dapat mengendap dalam tubuh Anda. Chitosan biasanya dikemas dalam bentuk kapsul.
Namun, jangan sekali-kali Anda menuangkan serbuk chitosan ke mulut Anda langsung. Ingat, chitosan SEDIKIT larut dalam air. Jangan salahkan saya atau dokter Anda jika tiba-tiba Anda merasa tenggorokan Anda seret setelah menelan serbuk chitosan dalam jumlah besar. Chitosan akan tetap mengeras ketika bertemu dengan zat cair, tetapi tidak sekeras kitin. Proses pengikisan chitosan akan memakan waktu. Jadi, jika Anda melihat produk chitosan yang dikemas dalam bentuk sachet, jangan pernah tergoda untuk membelinya. Salah-salah, Anda harus mengerok zat itu dari kerongkongan Anda nantinya.
Mengapa disimpan dalam bentuk kapsul? Chitosan larut dalam cairan asam. Setelah kapsulnya meleleh di lambung, chitosan yang bersifat basa akan bertemu dengan asam lambung. Basa dan asam saling menetralisir. Karena itu, chitosan juga bagus untuk orang yang menderita maag. Zat ini akan larut dalam asam lambung dan terurai, kemudian "diekspor" ke seluruh tubuh untuk mengikat racun dalam darah.
Sebagai tambahan, chitosan masih dapat diaplikasikan sebagai obat luar. Kalau untuk obat luar, chitosan masih dapat digunakan dalam jumlah besar seperti zat kitin, tergantung besar lukanya. Chitosan juga dapat menyembuhkan pembusukan (gangren) yang disebabkan oleh diabetes akut. Berguna sekali, bukan?
Untuk distribusi, zat kitin biasanya dimiliki oleh para praktisi pengobatan Cina kuno seperti shinse dan tabib, sedangkan zat chitosan biasanya didistribusikan secara eksklusif ke toko-toko obat dan suplemen. Zat kitin dan chitosan ini termasuk zat yang berbahaya jika tidak digunakan dengan benar, karena itu, distribusinya termasuk agak tertutup. Anda dapat bertanya ke apotik atau toko obat terdekat jika Anda ingin membeli chitosan. Sangat sedikit apotik dan toko obat yang menyediakan zat kitin sekarang ini, karena penggunaan kitin jauh lebih beresiko dibandingkan chitosan, walaupun keduanya sama-sama berguna dalam dunia medis.
Jadi, readers, jika Anda terluka, Anda dapat menggunakan kitin atau chitosan untuk membantu penyembuhan luka Anda. Jika tidak ada shinse kenalan Anda yang menyediakan stok kitin untuk Anda, Anda dapat mencoba memakan cangkang kepiting dan udang. Dagingnya nanti buat saya saja, hehehe (yang ini bercanda). Paling tidak, Anda sudah tahu kegunaan cangkang kepiting dan udang yang biasanya Anda buang kan? :)
Jumat, 27 Agustus 2010
Welcome Back!!!
Huah... Blog-ku terbengkalai ya? Gawat...
Anyway, for the newest update, I don't know what to write... Hahaha...
Sekarang sih lagi sibuk-sibuknya merevisi novel, bisnis MLM, dan PDKT dengan si dia... Ditambah lagi sibuk kuliah dari Senin-Sabtu... Buset deh... Hampir tiap hari ga pernah ada di kost... Aku cuma pulang kost buat nyantai benter dan istirahat. Selebihnya ya di luar kost, hehehe...
Bagi yang udah nunggu-nunggu update blog-ku, harap bersabar, karena aku belum nemuin topik yang pas buat dibahas di blog-ku ini, hehehe... Sabar ya readers :)
Anyway, for the newest update, I don't know what to write... Hahaha...
Sekarang sih lagi sibuk-sibuknya merevisi novel, bisnis MLM, dan PDKT dengan si dia... Ditambah lagi sibuk kuliah dari Senin-Sabtu... Buset deh... Hampir tiap hari ga pernah ada di kost... Aku cuma pulang kost buat nyantai benter dan istirahat. Selebihnya ya di luar kost, hehehe...
Bagi yang udah nunggu-nunggu update blog-ku, harap bersabar, karena aku belum nemuin topik yang pas buat dibahas di blog-ku ini, hehehe... Sabar ya readers :)
Senin, 14 Juni 2010
I Just Wanna Cry Out Loud This Time, Just This Once...
Kali ini aku ingin membahas tentang masalah persahabatan dan cinta. Kayaknya blog ini pas banget dengan namanya, Complexity, karena memang hidupku dan pikiranku begitu kompleks dan penuh warna.
Aku sedang jatuh cinta. Bukan sedang lagi sebenarnya, karena aku sudah menyatakan perasaanku kepadanya. Namun, terbersit dalam pikiranku untuk mengutarakan keenggananku untuk pacaran dengannya, walaupun dia sudah menunjukkan respon positif. Dia memang belum menyatakan kesediaannya untuk memacariku, tetapi di saat seperti inilah pikiranku selalu memikirkan sesuatu yang tidak-tidak dan membuatku depresi mental. Mengapa?
Mungkin ada yang langsung berpikir untuk melucu dan mengataiku seorang homoseksual. Sayangnya, bukan itu jawabannya, wahai orang-orang aneh... Aku normal. Mengapa aku masih menonton video Ariel-Cut Tari dengan begitu semangat kalau aku seorang homoseks?
Oke, out of context. Serius. Sebenarnya alasanku ingin membatalkan pernyataan itu hanyalah satu kata. Takut. Entah sudah berapa kali hidupku diombang-ambingkan oleh cinta (cailah bahasanya...). Aku sudah jatuh cinta berkali-kali, tetapi tidak pernah ada cinta yang benar-benar bisa kuraih. Aku takut si dia akan mengkhianatiku lagi kali ini. Aku takut hubungan kami akan meregang karena kesibukanku (anehnya, aku selalu jatuh cinta dan menginginkan seorang pacar ketika aku sedang hectic, sejak dulu selalu seperti itu). Aku takut aku tidak bisa menjadi pasangan yang baik dan memenuhi permintaannya. Namun, di sisi lain, aku begitu ingin dia terus bersamaku, paling tidak mengabariku segala hal yang terjadi dalam hidupnya lewat SMS atau sekadar telepon, atau apalah.
Namun, aku bingung, aku tidak tahu apakah aku akan selalu ada untuknya di kala dia menginginkanku hadir di sisinya. Jika aku menginginkan dia selalu di sisiku tetapi aku tidak pernah bisa hadir di sisinya, sama saja bohong. Itu berarti aku egois. Aku tidak mau hubungan kami meregang karena masalah seperti itu.
Yang kedua, masalah sahabat. Mungkin orang-orang melihatku sebagai seorang yang biasa saja dan tidak punya masalah. Mungkin punya, tetapi bisa kuatasi tanpa menimbulkan masalah lain. Namun, entah sudah keberapa kalinya aku melukai hati sahabat-sahabatku. Aku orang yang benar-benar egois, dan ketika aku menyadari semua kesalahanku, semuanya sudah terlambat. Hubungan kami tidak pernah seperti dulu lagi.
Setiap kali aku membuka akun Facebook-ku, setiap kali aku melihat post dari sahabat-sahabatku, aku begitu ingin menuliskan comment untuk mereka, hanya untuk berkomunikasi dengan mereka. Namun, aku tidak bisa. Aku takut melakukan kesalahan dan membuat hubungan kami semakin parah. Setiap kali aku melihat post-post itu, hatiku menjerit. Aku terjepit antara rasa sedih yang teramat sangat dan kegembiraan yang luar biasa. Sedih karena aku tidak mampu untuk menggerakkan mouse-ku dan meng-klik kolom comment, kemudian menuliskan apa yang ingin kusampaikan kepada mereka. Gembira karena setidaknya aku masih bisa mengetahui apa yang mereka rasakan sekarang lewat post-post mereka.
Mungkin Florence Littauer benar, orang Koleris tidak terlalu perlu teman. Namun, untuk sekali ini saja, aku begitu ingin bisa berkomunikasi normal lagi dengan mereka. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku begitu menginginkan seorang sahabat. Jika mereka mengatakan bahwa aku bukan teman yang baik, aku sudah berusaha sebaik mungkin untuk menjadi seorang teman yang baik bagi mereka. Kalau usahaku belum cukup, aku akan lebih meningkatkan usahaku lagi kali ini.
Sekarang aku hanya bisa berharap agar Tuhan memberikan aku kekuatan, kekuatan untuk meminta maaf dan berterus terang kepada mereka. Betapa aku membutuhkan mereka untuk berbagi keceriaan dan kesedihan bersama mereka lagi. Sekarang, aku hanya bisa melihat setitik cahaya pengharapan yang memungkinkanku untuk kembali lagi bersama mereka. Maafkan aku, sahabat-sahabatku.
Aku sedang jatuh cinta. Bukan sedang lagi sebenarnya, karena aku sudah menyatakan perasaanku kepadanya. Namun, terbersit dalam pikiranku untuk mengutarakan keenggananku untuk pacaran dengannya, walaupun dia sudah menunjukkan respon positif. Dia memang belum menyatakan kesediaannya untuk memacariku, tetapi di saat seperti inilah pikiranku selalu memikirkan sesuatu yang tidak-tidak dan membuatku depresi mental. Mengapa?
Mungkin ada yang langsung berpikir untuk melucu dan mengataiku seorang homoseksual. Sayangnya, bukan itu jawabannya, wahai orang-orang aneh... Aku normal. Mengapa aku masih menonton video Ariel-Cut Tari dengan begitu semangat kalau aku seorang homoseks?
Oke, out of context. Serius. Sebenarnya alasanku ingin membatalkan pernyataan itu hanyalah satu kata. Takut. Entah sudah berapa kali hidupku diombang-ambingkan oleh cinta (cailah bahasanya...). Aku sudah jatuh cinta berkali-kali, tetapi tidak pernah ada cinta yang benar-benar bisa kuraih. Aku takut si dia akan mengkhianatiku lagi kali ini. Aku takut hubungan kami akan meregang karena kesibukanku (anehnya, aku selalu jatuh cinta dan menginginkan seorang pacar ketika aku sedang hectic, sejak dulu selalu seperti itu). Aku takut aku tidak bisa menjadi pasangan yang baik dan memenuhi permintaannya. Namun, di sisi lain, aku begitu ingin dia terus bersamaku, paling tidak mengabariku segala hal yang terjadi dalam hidupnya lewat SMS atau sekadar telepon, atau apalah.
Namun, aku bingung, aku tidak tahu apakah aku akan selalu ada untuknya di kala dia menginginkanku hadir di sisinya. Jika aku menginginkan dia selalu di sisiku tetapi aku tidak pernah bisa hadir di sisinya, sama saja bohong. Itu berarti aku egois. Aku tidak mau hubungan kami meregang karena masalah seperti itu.
Yang kedua, masalah sahabat. Mungkin orang-orang melihatku sebagai seorang yang biasa saja dan tidak punya masalah. Mungkin punya, tetapi bisa kuatasi tanpa menimbulkan masalah lain. Namun, entah sudah keberapa kalinya aku melukai hati sahabat-sahabatku. Aku orang yang benar-benar egois, dan ketika aku menyadari semua kesalahanku, semuanya sudah terlambat. Hubungan kami tidak pernah seperti dulu lagi.
Setiap kali aku membuka akun Facebook-ku, setiap kali aku melihat post dari sahabat-sahabatku, aku begitu ingin menuliskan comment untuk mereka, hanya untuk berkomunikasi dengan mereka. Namun, aku tidak bisa. Aku takut melakukan kesalahan dan membuat hubungan kami semakin parah. Setiap kali aku melihat post-post itu, hatiku menjerit. Aku terjepit antara rasa sedih yang teramat sangat dan kegembiraan yang luar biasa. Sedih karena aku tidak mampu untuk menggerakkan mouse-ku dan meng-klik kolom comment, kemudian menuliskan apa yang ingin kusampaikan kepada mereka. Gembira karena setidaknya aku masih bisa mengetahui apa yang mereka rasakan sekarang lewat post-post mereka.
Mungkin Florence Littauer benar, orang Koleris tidak terlalu perlu teman. Namun, untuk sekali ini saja, aku begitu ingin bisa berkomunikasi normal lagi dengan mereka. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku begitu menginginkan seorang sahabat. Jika mereka mengatakan bahwa aku bukan teman yang baik, aku sudah berusaha sebaik mungkin untuk menjadi seorang teman yang baik bagi mereka. Kalau usahaku belum cukup, aku akan lebih meningkatkan usahaku lagi kali ini.
Sekarang aku hanya bisa berharap agar Tuhan memberikan aku kekuatan, kekuatan untuk meminta maaf dan berterus terang kepada mereka. Betapa aku membutuhkan mereka untuk berbagi keceriaan dan kesedihan bersama mereka lagi. Sekarang, aku hanya bisa melihat setitik cahaya pengharapan yang memungkinkanku untuk kembali lagi bersama mereka. Maafkan aku, sahabat-sahabatku.
Langganan:
Komentar (Atom)

