Pages

Senin, 10 Oktober 2011

New Things

Gwaaaa!!! Apa kabar blog-ku? Sudah lama aku tidak menyentuhmu. Maaf, ya, beribu maaf... *sambil bersih-bersihin debu*

Oke, how are you, readers? Maaf lama banget baru nongol lagi. Gue sibuk banget akhir-akhir ini, sibuk leyeh-leyeh maksudnya. Gue lagi SKRIPSI-an. Kuliah gue di semester 7 ini cuman hari Sabtu, jadi hampir tiap hari gue mendekam di kost, siap-siap ditumbuhin lumut nih badan gue. Gak lumutan juga, sih, gue bercanda. Biar nggak lumutan, gue membiasakan diri buat sering-sering gerak di kost, entah pergi ke gym atau ke mana. Pokoknya, biarpun deadline mendekat, gue nggak akan membiarkan otak gue terlalu nempel sama laptop gue.

Well, a lot of new things has happened to me lately. Gue pulang ke Pontianak buat liburan, and I ended up to regret it immediately afterwards. Nyokap ngomel terus ke gue pas adik-adik gue lagi nggak di rumah, gara-gara gue nggak ngambil magang pas liburan kemarin. Awalnya, sih, memang gue mikirnya nggak magang dulu, mau lanjut MLM di sana. Some things happened, dan gue memutuskan untuk memberhentikan bisnis MLM gue. Gue tetap nerima terapi akupunktur yang gak bakal pernah habis (toh pasti ada orang yang minta diterapi), but for the business, not anymore. Upline-upline gue sepertinya kurang menyadari kepentingan kehidupan pribadi gue, jadi sebaiknya gue meregangkan sendiri hubungan dengan mereka. It's not really a big deal, though, they aren't looking for me until now.

Gue berhasil menaikkan berat badan gue menjadi 62 kg. Idealnya masih tetap 65-68 kg, still a long way to go, tapi entah kenapa fitness adalah satu-satunya kegiatan yang gak bisa gue tinggalin. Udah jadi kebiasaan, dan entah kenapa gue ketagihan. Mungkin karena gue punya target, dan target gue masih belum tercapai sampai sekarang, ditambah lagi gue ngerasa, inilah yang gue mau, this is my life. Jadi, gue nggak akan berhenti di sini, tetap berjuang untuk punya badan atletis dan ideal.

September lalu, gue jadi PIC OMB (Orientasi Mahasiswa Baru) di kampus gue untuk mengayomi maba angkatan kelima. Orientasinya asyik-asyik aja, walaupun sangat melelahkan. Gue harus standby di kampus sejak jam 5.30 pagi dan baru ketemu sama kamar kost gue lagi sekitar jam 7 atau jam 8 malam. Setidaknya lebih bagus daripada tahun lalu, yang gue baru ketemu sama kamar kost jam 9 malam gara-gara evaluasi harian yang memakan waktu.

Di antara anak-anak kelompok PAUS yang gue pimpin, kebanyakan cewek. 10 cewek dan 6 cowok (1 kelompok 16 orang). Salah satunya cantik, dan gue akui sempat ada crush sih. Sayangnya, dia udah ada yang punya. Ya, udah, deh, gue let it flow aja dulu. Gue sedang tidak memusingkan soal cinta, back to my old self, ignorant but caring. Gue senang jomblo untuk saat ini, LOL.

Setelah OMB selesai, gue balik ke rutinitas sehari-hari, yaitu skripsi-an, gaming, dan gym. Rutinitas gue sehari-hari terasa cukup ngebosenin sebenarnya, hanya duduk di depan laptop, keluar makan siang, duduk depan laptop lagi, keluar makan malam, dan balik DUDUK DEPAN LAPTOP sampai waktunya tidur. Gym gue lakukan kebanyakan di pagi hari, kecuali beberapa hari yang memaksa gue buat gym di sore hari. Terkadang gue ke kampus buat ngubek-ubek buku-buku di perpustakaan, nyari referensi tambahan buat skripsi gue. Terkadang gue berkunjung ke Gramedia, as usual, nyari buku referensi lagi (yang seringkali gak bakal ada), atau sekadar jalan-jalan ke supermarket buat restock makanan. Actually, my life is quite boring these days, tapi gue ngerasa fine-fine aja, entah kenapa.


I'm starting to like Running Man. Running Man itu variety show dari Korea. Variety show-nya bikin ngakak banget. Gue sering nonton kalau lagi suntuk sama skripsi atau lagi kepingin hiburan. Sejauh ini, favorit gue tetap Kang Gary, Song Ji Hyo, Ha Dong Hoon, sama Lee Gwang Soo. Readers yang kepingin nonton, coba cari link download-nya, deh. Sebagian besar udah dipasang subtitle Inggris, koq, jadi nggak ada masalah buat yang gak bisa bahasa Korea (contohnya gue).


Oh, about gym. LOTY (L-Men Of The Year) 2012 is coming. Gue kepingin ikut, tapi di saat yang sama dengan audisi, gue harus ngurus magang gue, dan gue ga mungkin daftar audisi di Tangerang, karena akan dianggap gue kontestan dari Banten. Gue kepingin ikut pra-audisi di Pontianak, tapi takutnya waktunya nggak pas. Lagipula, gue masih terhitung kurus untuk ikut audisi. Berat badan gue belum sampai 67 kg yang merupakan batas normal kontestan-kontestan LOTY yang gue lihat tahun-tahun sebelumnya (untuk ukuran tinggi 170-175 cm). Tinggi gue 171, dan berat badan ideal adalah sekitar 65-68 kg, jadi gue masih berusaha menambah berat badan. Semoga berhasil, deh.

Mungkin segitu aja dulu, readers. Gue janji gue akan lebih update lagi nanti kalau gue lagi bosan berat. Ciao, guys :)

Kamis, 23 Juni 2011

Finally, A New Post

Akhirnya Ujian Akhir Semester selesai, dan akhirnya gue punya bahan baru lagi buat di-post di sini. UAS-nya sendiri nggak berat sih, tapi cukup melelahkan dengan banyaknya take home test yang harus dikerjakan. Kali ini gue pengen membahas tentang kejadian dalam hidup gue akhir-akhir ini.

Gue nambah gemuk. Akhirnya program gain mass gue berhasil. Peningkatannya memang nggak banyak, tapi cukup signifikan karena dosen yang udah lama nggak ketemu sama gue tiba-tiba ngomong: "Kamu gemukan ya?" Kalau udah orang lain yang mengatakan gue tambah gemuk, gue semakin semangat untuk nambah massa otot dan berat badan. Jujur aja, gue baru 60-61 kg, dan berat ideal buat gue adalah 65-67, jadi gue masih berusaha untuk menambah sambil tetap mempertahankan jangan sampai lemak badan gue meluber ke mana-mana.

Kabar terbaru dari keluarga gue adalah adik gue yang pertama rupanya ada sedikit masalah jantung. Dia nggak bisa lari jauh dan cepat, karena jantungnya nggak bisa mompa darah dengan optimal kalau dia kecapean. Lusa gue pulang Pontianak, dan gue bawa obat buat dia. Kasihan juga sih, soalnya seingat gue, walaupun adik gue itu cenderung pemalas di pagi hari, dia juga rajin olahraga. Setidaknya belum pernah ada masalah dengan kegiatan olahraganya di sekolah, dan dia masih oke-oke aja main badminton dan sebagainya. Semoga dengan obat yang gue bawa nanti dia segera sembuh deh.

Novel gue ditolak. Nggak apa-apa sih, itu proses yang harus gue lalui. Masih banyak penerbit yang mungkin akan menerima novel gue, tinggal ditowel aja satu-satu. Bahkan sebelum draft final novel gue benar-benar kelar dan selesai diedit di beberapa bagian yang masih rancu dan ganjil, gue udah mikirin ide buat novel baru. Gila ya? Begitulah gue, kalau udah urusan kesehatan atau tulis-menulis, otak gue muternya cepat. Teman-teman gue perlu waktu berbulan-bulan hanya untuk memikirkan ide cerita, dan gue bisa menghasilkan 50 halaman A4 draft novel dalam waktu yang sama. Apa aja bisa jadi ide cerita buat gue, mulai dari kegiatan sehari-hari, kisah sukses, sampai sesuatu yang orang anggap sangat absurd seperti dunia video game. Kalau udah keranjingan nulis jadi gini deh.

Gue mau nge-band lagi. Misi pertama gue setelah sampai ke Pontianak nanti adalah mengunjungi tempat gue latihan band bersama teman-teman gue dulu. Gue nggak tahu apakah tempat itu masih jadi tempat latihan band atau nggak, tapi at least gue pengen latihan band lagi. Gue pengen ngembaliin kemampuan keyboard gue yang menumpul. Rencananya nanti pas balik ke Jakarta, gue mau bawa seruling kesayangan gue yang pernah gue mainin pas jadi tim musik upacara 17-an pas SMA dulu. Itu satu-satunya alat musik yang sangat gue kuasai selain keyboard. Selain mau nge-band lagi, gue juga mau latihan nyanyi. Kalau yang ini otodidak sih, tapi gue udah nemuin warna suara gue, dan teman-teman bilang memang warna itu cocok buat gue. Suara gue pas lagi nyanyi lebih mirip dengan suara vokalisnya Dygta dan ADA Band. Gue bisa nyanyi lagu-lagu mereka dengan baik, sedangkan lagu band lain biasanya cenderung nggak powerful kalau dinyanyiin sama gue. Nggak apa-apa deh, yang penting gue udah nemuin kemampuan vokal gue, akhirnya :)

Terakhir, ini masalah yang paling sensitif dalam kehidupan gue. Lagi-lagi gue harus membahas soal cinta. Sebenarnya intinya cuma satu sih, gue pengen punya pacar. Lucu juga sih, beberapa teman gue terkadang ngeluh gimana susahnya dia harus maintain hubungan dengan kekasihnya, bahkan berharap supaya hubungan mereka segera berakhir dan memandang jomblo adalah suatu anugerah. Namun, nggak buat gue. Gue capek nge-jomblo. Gue pengen ngerasain gimana rasanya pacaran yang benar-benar pacaran dan gimana mengatasi konflik dalam hubungan asmara. Masalahnya, dari semua cewek yang pernah gue taksir, kebanyakan nggak mau sama gue, entah kenapa. Memang sih, gue nggak semenarik cowok-cowok yang bisa bikin ceweknya terbahak setiap hari. Gue tipe cowok analitis yang cenderung hanya bisa membuat joke yang terkesan jayuz. Hanya sedikit orang yang bisa terbahak waktu dengar gue bercanda.

Satu-satunya modal gue, sekaligus bumerang buat gue dalam urusan cinta adalah setia dan pengertian. Gue selalu mencoba untuk mengerti orang lain dan mencari tahu mengenai segala sesuatu mengenai orang yang dekat dengan gue. Bahkan, sebelum sempat jadian dengan satu cewek, gue akan cenderung setia sampai gue sadar kalau tuh cewek benar-benar nggak mau sama gue. Sebagian besar teman gue menganggap gue bodoh dalam soal ini. Mereka sering lihat gue jatuh bangun dan "luka-luka" hanya untuk mengejar cewek yang sejak awal udah nunjukin tanda kalau dia nggak mau sama gue. Sayangnya, gue bukan tipe yang menyerah semudah itu, dan sekarang, gue sedang berusaha supaya keunggulan gue ini nggak jadi bumerang buat gue nantinya.

Oh, gebetan? Well, how to say it? Boleh nggak kalau gue bilang gue suka sama lu di sini? Gue tahu lu selalu baca blog gue dan gue sadar kalau ini sama sekali bukan cara yang gentle buat ngungkapin perasaan. Sayangnya, kita susah banget ketemu. Gue nggak keberatan kalau lu nggak mau sama gue, yang jelas gue udah merasa lega kalau gue bisa ngomong langsung kayak gitu ke lu. Well, maybe not "like", "I LOVE YOU" is more like it. Percaya nggak kalau gue selalu berharap lu bisa balas SMS gue, atau balas saling mention di Twitter, atau chatting di Facebook? Mungkin berlebihan ya? Untuk yang satu ini gue lebay, tapi mungkin lebih tepat disebut, gue selalu galau mendadak kalau gue lagi mikirin lu, seriously. You're driving me crazy inside.

Hahaha, ya sudahlah, lupakan. Gue akan bilang langsung begitu keberanian gue memang udah ngumpul dan kita pas ketemu. Take care, GBU, I hope to see you soon :)
Oh, buat readers, maaf gue jadi curcol di sini, tapi nggak apa-apa deh, toh beberapa lama sekali juga kan gue baru update blog gue. Kalau mengganggu penglihatan, di-skip aja bacanya, sekalian nunggu post berikutnya dari gue. See you guys ;)

Rabu, 18 Mei 2011

Lelah

Hai, readers, sepertinya gue udah lama nggak nge-blog... Setelah curcol sesaat tempo hari (tempo hari apa tempo hari?), sekarang gue baru sempat nge-blog lagi. Banyak kejadian dalam kehidupan gue akhir-akhir ini, dan nggak mungkin gue post semuanya dalam satu post ini. Gila aja kali gue post semua, karena nggak ada yang terlalu penting. Kalaupun gue post semua, pastinya akan terkesan basi banget. Posting kali ini gue kasih judul "Lelah". Kenapa? Yah, banyak hal yang bikin gue entah kenapa merasa capek banget akhir-akhir ini... Mari kita bahas satu per satu.

Gue baru punya BB, dibeliin sama nyokap gue dengan konsekuensi uang bulanan gue dikurangi, jadi istilahnya kayak gue nyicil buat beli BB sendiri tanpa DP. Bagus sih, dengan ada BB ini komunikasi gue dengan teman-teman gue jadi lancar, dan terutama berguna banget dalam bisnis gue, soalnya jadi lebih enak ngobrol dengan rekan kerja atau pelanggan-pelanggan akupunktur gue. Kadang-kadang, adanya BB ini jadi bumerang juga buat gue, karena gue terkadang tahu hal-hal yang seharusnya nggak gue tahu. Tapi ya sudahlah, itu konsekuensi juga toh? :)

Buku gue baru aja gue revisi setelah melakukan tes pembaca, jadi tampaknya baru akan tiga sampai enam bulan lagi baru bisa terbit tuh buku. Masih banyak lubang menganga dalam cerita yang disadari sama pembaca gue, dan tentunya juga baru gue sadari setelah diberitahu. Gue nggak ngeluh untuk yang satu ini, karena gue mencintai kegiatan tulis-menulis, dan salah satu syarat agar novel gue laku nantinya adalah dengan tes pembaca, supaya gue tahu apa yang masih kurang dan perlu gue tambahin untuk memenuhi keinginan pembaca. Akhirnya Mei ini gue jadi punya kerjaan sampingan juga...

Gue lagi bikin daftar kata scrabble, yang jumlahnya bisa mencapai jutaan kata. Ini salah satu kegiatan yang melelahkan, karena gue senior di UKM English Club di kampus, dan gue udah pernah ikut lomba. List katanya bisa dicari di internet. Awal-awalnya, list kata masih bisa di-copy paste, tapi ujung-ujungnya, gue lebih banyak mengetik ulang kata-kata yang ada karena tidak lagi diurutkan sesuai jumlah huruf dan alfabetnya. Ini diakibatkan oleh website resmi Zyzzyva yang sedang update sehingga word list-nya nggak bisa diakses. Gue nggak yakin ini bisa kelar dalam waktu dekat. Capek bok ngetik-ngetik terus, tapi apa boleh buat... Soalnya nggak bakal ada yang mau gue serahin tugas ini, karena cuma gue yang tahu udah sampai mana gue bikin word list-nya, dan orang lain nggak akan serajin gue untuk men-double check apakah kata yang bersangkutan sudah terdaftar sebelumnya.

Berat badan gue udah meningkat dengan sukses menjadi 61,5 kg, akhirnya... Nggak sia-sia gue fitness selama empat bulan ini, akhirnya mengalami peningkatan berat badan yang cukup signifikan. Tinggal nambah enam kilo lagi dan berat badan gue jadi ideal. Mungkin perlu waktu, tapi nggak apa-apa, toh badan gue udah lumayan berbentuk juga. Pamer dikit boleh dong, gue udah ngabisin banyak biaya buat ngebentuk badan gue jadi ideal selama empat bulan terakhir :)

Gue mulai bosan kuliah. Sepanjang semester kuliahnya begitu-begitu aja, nggak ada perkembangan. Materinya diulang-ulang terus. Gue lebih banyak menghabiskan waktu di kelas dengan BBM-an, Facebook-an, Twitter-an, dan browsing saking bosannya. Gue merasa sia-sia gue bayar mahal-mahal buat kuliah. Gue sekarang kuliah hanya untuk melengkapi absen gue, karena di kampus gue ada batas ketidakhadiran maksimal 3x dalam satu semester. Kalau lebih dari itu, gue nggak bisa ikut UAS. Jadilah gue pakai jatah 3x bolos itu untuk berbagai hal :P

Yang paling bikin gue merasa lelah adalah masalah cinta. Ya, lagi-lagi cinta. Seperti kata Raditya Dika, kalau jatuh cinta bisa bikin tahi jadi rasa cokelat, patah hati atau cinta bertepuk sebelah tangan bisa bikin cokelat jadi rasa tahi. Gue buka bermaksud jorok, tapi itulah kenyataan yang gue alami sekarang. Masih cinta dengan si dia? Nggak terlalu lagi... Istilahnya, perasaan gue ke dia udah mulai pudar sedikit demi sedikit, dan sampai pada tahap di mana gue harus memilih antara menghilangkan perasaan itu selamanya atau berusaha untuk kembali memupuknya. Gue pengen menghilangkan perasaan itu, tapi gue merasa sayang untuk mengakhirinya begitu aja, karena gue belum sampai pada tahap di mana gue berhasil menyatakan perasaan gue ke dia.

Tanggal 2 Mei kemarin, putri pertama dosen sekaligus sahabat terbaik gue lahir. Entah bagaimana, gue merasa sayang banget sama nih bayi. Beberapa kali gue foto dan gue pasang jadi profpic di BBM sampai ada yang nanya-nanya ke gue, ngirain itu saudara gue. Namun, lain dengan rekan-rekan bisnis gue. Mereka tahu dosen gue nggak ada hubungan darah apapun sama gue, tapi mereka tetap menganggap anak dosen gue itu sebagai keponakan gue. Lucu juga, sih, tapi entah gimana gue nggak nolak dianggap begitu, malahan senang.

Kehadiran si kecil ini justru bikin gue makin mempertanyakan diri gue sendiri. Sebenarnya cinta apa sih yang gue harapin? Gue cenderung susah buat jatuh cinta. Gue sendiri bingung dan nggak bisa ngejelasin gimana gue bisa jatuh cinta sama satu cewek untuk waktu yang lama. Pertama kali gue suka sama cewek adalah pas kelas 3 SMP, dan setiap tahunnya, selalu ada cewek yang berhasil menarik perhatian gue. Namun, sampai sekarang, baru tiga yang pernah gue "tembak", dan semuanya menolak. Gue pacaran baru satu kali sampai sekarang.

Gue bukan tipe yang takut akan ketidakpastian. Hubungan cinta itu, gue akui, agak aneh. Terkadang gue bisa merasa sangat tertarik dengan seorang cewek sampai ngejar dia mati-matian, mimpiin dia tiap malam, dan berujung pada sakit hati yang mendalam. Ya, gue tahu ini mellow banget, dan gue nggak bermaksud untuk begitu, tapi yang memang begitu (gimana sih?).

Kedekatan gue dengan dosen gue dan anak bayinya ini bikin gue mempertimbangkan satu lagi wanita untuk masuk dalam kehidupan gue. Masalahnya, kehadiran wanita ini mungkin akan menghancurkan semua memori gue tentang keluarga gue. Gue nggak lebay, memang begitu kenyataannya, karena dosen gue bukan Chinese, dan nyokap gue nggak akan pernah ngizinin gue buat menjalin hubungan dengan orang yang bukan Chinese. Bukan berarti gue suka sama dosen gue (dosen gue cowok dan dia udah PUNYA ISTRI), tapi gue mempertimbangkan adik kandungnya. Dalam sejarah keluarga dosen gue, dari empat bersaudara, dua udah nikah, satunya sebentar lagi nikah, dan satu lagi kuliah di kampus yang sama dengan gue. Semua menantunya Chinese, sedangkan keluarga dosen gue Jawa tulen.

Di sinilah letak kenapa gue merasa lelah. Lelah fisik bisa gue sembuhin dengan istirahat dan suplemen, tapi tidak dengan lelah mental. Gue mempertanyakan diri gue sendiri, sebenarnya apa yang gue mau? Gue berjalan seolah tanpa arah tujuan. Gue bisa mikirin satu cewek lama banget tanpa tahu gimana caranya gue bisa dekat ke dia dan "nembak". Di saat yang sama, gue bisa memasukkan sosok cewek lain yang istilah kasarnya bisa gue jadiin "serep" ke dalam hati gue. Namun, sayangnya, ketika gue sedang patah hati, "serep" itu nggak berfungsi. Gue bukan playboy, tapi entah kenapa gue selalu begitu. Hanya beberapa cewek yang pernah gue suka yang beruntung nggak gue jadiin "serep", dan gue selalu berharap kebiasaan gue nggak kebawa sampai nikah nanti.

Saat ini, gue harus memilih, antara memupuk kembali perasaan itu ke dia, atau membuangnya dan mencoba mencari yang lain. Dia ini Chinese, jadi gue merasa kalau gue bisa dapetin dia, suatu anugerah buat gue karena nyokap gue nggak akan bertanya macam-macam. Jika gue memilih untuk mencari yang lain, gue kembali berhadapan dengan buah simalakama. Hanya satu cewek yang gue pikir bisa gue dekatin saat ini selain si dia, dan PDKT dengan cewek ini bisa berakibat fatal, karena mempertaruhkan cinta gue ke keluarga gue sendiri. Sebagai anak tertua, gue diharapkan oleh nyokap gue bisa ngambil keputusan yang benar-benar bijak, dan gue sendiri nggak ngerti mana keputusan yang benar dan mana yang salah, karena memang pilihan seperti itu selalu ada dalam kehidupan gue. Kali ini, pilihan ini bikin gue lelah secara mental, karena manapun yang gue pilih, rasanya pilihan lain itu akan kandas selamanya. Semua pilihan itu terasa benar, sekaligus terasa salah.

Gue bingung seribu keliling. Gue nggak berani cerita ini bahkan ke teman terdekat gue, karena mereka juga nggak akan membantu dalam memutuskan pilihan. This is my story, dan tugas gue-lah untuk menentukan gimana cerita hidup gue akan berjalan dan berakhir. Masalahnya, jika gue nemu jalan bercabang yang penuh cabang kayak gini, gue nggak akan bisa mutar balik kalau nemu jalan buntu, karena waktu nggak akan bisa diputar kembali... Dan gue nggak mau melakukan kesalahan yang fatal dalam keputusan gue...

Yah, mungkin cukup sekian dulu... Sampai saat ini gue belum bisa ngambil keputusan. Gue hanya bisa melakukan pekerjaan lain yang mengalihkan pikiran gue dari masalah ini untuk sementara waktu, dan kembali menghadapi jalan bercabang yang sama begitu kerjaan gue selesai... Mungkin readers ada saran? Kalau ada silakan comment. Yang jelas, semua saran akan gue pertimbangkan baik-baik. Ujung-ujungnya toh semuanya bergantung sama keputusan gue, karena sekali lagi, this is my story, and I'm the director of my own life.

Minggu, 27 Maret 2011

La Lumière de L'Espoir

Hi, guys! Udah satu bulan lebih gw ga nge-blog, soalnya gw lagi concern banget sama buku gw. Sekarang, tepat jam 19.00 tadi, buku gw kelar! Yeah! Rasanya lega banget. Walaupun belum diterbitin dan belum pasti diterima, entah kenapa gw merasa senang banget. Soalnya gw udah ngorbanin banyak waktu selama satu bulan ini hanya untuk merampungkan satu buku itu.

Ceritanya banyak yang gw ubah. Planning awal yang gw tetapkan terpaksa gw ubah karena banyak masukan dari berbagai pihak. Genre buku gw kali ini adalah teenlit dewasa, jadi hanya boleh dibaca oleh remaja berusia 17 tahun ke atas. Perubahan yang gw lakuin termasuk mengganti judul, mengubah alur cerita, memutarbalikkan fakta yang udah gw planning dari awal, dan sebagainya. Kalau mau jujur, ini buku terberat yang pernah gw tulis, dan gw yakin masih banyak kesalahan di sana-sini yang perlu diedit. Namun, gw puas banget setelah merampungkan bagian epilog tadi. Rasanya mungkin seperti melahirkan anak. Selama satu bulan ini gw selalu tidur di atas jam 12 malam, bangun jam 7 pagi untuk siap-siap kuliah, bahkan menulis di sela-sela gw ngerjain tugas, nyuci baju, dll, mirip kayak ibu hamil yang ngerawat kandungannya sambil masak, nyapu-nyapu rumah, ngepel, dan sebagainya. Intinya, sih, gw senang banget, terutama karena bulan Maret 2011 ini adalah bulan yang paling kelam yang pernah gw alami dalam hidup gw.

Paling kelam gimana? Ya intinya begini. Gw bertengkar entah untuk keberapa kalinya sama nyokap gw soal BB. Keuangan keluarga lagi susah banget sekarang, bahkan gw sempat nggak yakin pengen ngelanjutin kuliah lagi di sini kalau tiap tahun uang jajan gw harus dinaikin. Gw bertengkar juga sama adik gw soal yang sama. Ya, nggak terlalu penting, sih, sebenarnya, soalnya hape gw yang jadul ini masih bisa dipake. Gw pengen pake BB hanya karena gw pengen dapat update info-info seputar kuliah dengan lebih cepat. Udah nggak kehitung berapa kali gw ga dapat info soal kuliah yang batal atau kelas pengganti dan sejenisnya, soalnya teman-teman gw kebanyakan pake BB, dan lewat BBM-lah berita itu menyebar duluan. Ironisnya, dengan adanya fasilitas FB, Twitter, YM, dan BBM itu, fasilitas SMS jadi terlupakan.

Kedua, gw ditolak mentah-mentah sama cewek yang gw taksir, bahkan sebelum gw sempat nembak. Mungkin dia sibuk dengan persiapan ujian, gw gak tahu. Yang pasti, dia udah nolak gw, dan jujur, hati gw sakit. Gw sempat down satu dua hari waktu gw tahu fakta kalo dia pengen gw menjauh dari dia, apalagi di saat yang sama gw debat kusir sama nyokap. Jadilah gw nangis semalam sebelum gw tidur, meluapkan isi perasaan dengan meneteskan air mata diam-diam. Besoknya, gw langsung jadi orang yang keranjingan nulis. Gw bolos kuliah pagi buat ngelanjutin novel gw, sebagai pelampiasan kekesalan dan kesedihan gw. Kedengarannya aneh ya, tapi nyata, soalnya gw beneran nangis malam itu, berharap Tuhan mempermudah jalan gw.

Bisnis MLM gw juga lagi kurang lancar. Banyak yang mesen produk dari gw tapi gak mau ngasih duit dulu. Belum lagi tuntutan keuangan yang terus ngikutin gw dari belakang akhir-akhir ini. Sungguh menyiksa, memang. Tapi, akhirnya, di tengah deraan dan siksaan mental itu, gw bisa merampungkan buku gw. Gw lega banget, walaupun gw tahu masalah hidup gw belum selesai sampai di situ. Setidaknya satu masalah selesai, dan itu udah cukup memuaskan bagi gw.

Judul novel gw juga gw ganti menjadi La Lumiere de L'Espoir, bahasa Prancis dari Light of Hope. Ceritanya menggambarkan tentang gimana hubungan dua orang yang gak pernah saling kenal bisa menjadi hubungan yang saling memberikan cahaya harapan. Ironisnya, judul itu juga menggambarkan kehidupan gw sekarang. Gw harap novel ini benar-benar bisa menjadi cahaya harapan bagi gw, menerangi gw supaya gw bisa terus berjalan. Segelap apapun jalan kita, kalau ada cahaya yang memandu, pasti semuanya akan baik-baik aja, dan itulah yang gw perlukan saat ini. Semoga buku ini benar-benar jadi cahaya buat gw. jadi, wish me luck ya guys, karena gw akan segera mengirimkan novel gw ke penerbit dalam waktu dekat. See you later, readers :)

Selasa, 22 Februari 2011

Dua Dunia Satu Pelita

Hai readers! Akhirnya blog ini gw buka lagi. Setelah sibuk dengan UAS dan Imlek di kampung, sekarang gw mau cerita tentang plan novel baru gw.

Udah beberapa kali gw mencoba menulis buku tentang hal-hal yang non-fantasi, tapi tetap aja sulit. My mind is stuck with my own dramatized true story and the world of fantasy. Akhirnya, setelah bertapa dua minggu di Pontianak dan melihat poster EXPO di kampus, gw jadi kembali terinspirasi. Waktunya untuk mencoba menulis novel yang serius dan mengena di hati pembaca. Di blog ini, gw akan mencoba menulis garis besar ceritanya secara ringkas. Just read it, guys! :)

"Namaku Agustinus Rionaldy Hermanto, biasanya dipanggil Rio. Aku seorang Katolik. Aku tidak ingat kapan aku menjadi Katolik, bahkan aku tidak ingat apapun tentang masa kecilku. Aku tinggal di seminari, diasuh oleh Pastor Bartolomeus. Meskipun aku tinggal di seminari, beliau tidak mengharuskanku untuk mengikuti pelajaran di seminari dan menjadi seorang biarawan. Justru, beliau selalu berkata padaku untuk mengikuti kata hatiku.

Hidupku yang damai di biara berubah 180 derajat setelah biara tempat tinggalku diledakkan oleh sekelompok teroris pada tahun 2001. Beberapa di antara kami yang bertahan hidup saling berselisih, hingga akhirnya kami berpisah. Tanpa bimbingan Pastor Barto, aku pun mengembara tak tentu arah. Kata teman-temanku, dia sudah meninggal, tapi aku tidak percaya sebelum aku bertemu dengan jasadnya yang tak bernyawa.

Sekarang, aku seorang pengamen yang tidak punya apapun yang bisa dibanggakan. Selama ini aku hanya menyanyi untuk bertahan hidup. Aku menghadapi semua cemoohan dari sesama pengamen yang tidak menyukai agamaku. Terkadang, aku menambah luka baru di tubuhku dengan mempertahankan jatah makan siangku dari gelandangan lain. Hidupku kini tidak menentu. Bisa bertahan hidup saja sudah syukur. Aku hanya ingin agar bisa bertemu kembali dengan Pastor Barto. Aku percaya bahwa dia masih hidup di suatu tempat di dunia yang gelap ini."

"Gue Tia. Nama lengkap gue gak penting. Tapi kalo loe mau tahu nama lengkap gue, ya udah, gue kasih tahu. Christie Guntoro. Hanya itu. Nama yang sangat gue benci. Gue udah lima kali mencoba bunuh diri dengan berbagai cara, gak tahan dengan dunia yang payah ini, tapi selalu gagal gara-gara lelaki setan itu. Gue tahu, dia cuman nyelamatin gue supaya gue bisa terus dia pakai sesuka hati untuk memuaskan birahi liarnya, dan gue benci, sangat benci dengan dia.

Gue ateis. Awalnya sih Kristen, tapi gue ga percaya lagi sama Tuhan. Tuhan itu gak ada. Kalo Tuhan ada, kenapa bisa gue dibiarin diperkosa oleh lelaki setan yang memberikan namanya sebagai nama belakang gue? Kenapa gue harus hidup dalam cengkeraman nafsu duniawi yang menyiksa fisik dan batin? Kenapa gue harus hidup bersama bokap gue yang selalu menjadikan gue mainannya? Gue sama sekali gak percaya sama Tuhan.

Selama ini, gue cuman bisa mencurahkan kesedihan gue ke dalam buku harian gue. Menulis, itu satu-satunya cara buat gue keluar dari kehidupan gue yang menyebalkan. Gue memang punya uang berlimpah. Gue belum pernah hamil dari hubungan laknat dengan lelaki setan itu. Gue memang masih punya nyokap yang sayang banget sama gue. Tapi hidup gue bikin gue lupa caranya berekspresi. Gue selalu menggambarkan tokoh dalam tulisan gue dengan berbagai ekspresi, tapi gue sendiri gak pernah bisa berekspresi lagi. Gue nggak tahu apa maksudnya senang, sedih, marah. Bagi gue, semuanya sama aja. Gue cuman pengen satu hal, kalo memang Tuhan itu ada, tolongin gue dari kehidupan laknat ini. Gue berharap pria brengsek itu mati secepatnya dan menghilang dari kehidupan gue."

Terus? Gimana kelanjutan ceritanya? Ya sudah, nantikan saja ya kawan-kawan. Sebaiknya gw mulai menulis, jangan sampai ide cemerlang ini lenyap ditelan waktu. See you later, guys!

Kamis, 13 Januari 2011

Sempurna

Judul post ini persis dengan judul lagu yang pernah hits banget di tahun 2007-2008an. Bukan hanya di seluruh Indonesia, melainkan juga di sekolahku dulu, SMA Gembala Baik. Lagu pop nge-hits itu sudah biasa, terutama di sekolahku dulu. Namun, jika lagu itu nge-hits sampai dinyanyikan oleh seluruh sekolah, itu baru luar biasa. Lho? Kok bisa?

Beberapa hari yang lalu aku menulis status di Facebook-ku seperti ini: Rayca Aryani Chang, Cornelius Lutiono, Teddy Susanto, Eldo Sebastian Tandra, nge-band lagi yuk :)
Keempat orang itu adalah nama teman-teman band-ku yang sangat luar biasa. Band kami dulu kami beri nama Undo, sebuah fungsi untuk membatalkan kembali sesuatu yang kita lakukan dalam program-program komputer. Nama ini, bagi kami, adalah nama kebangkitan kami ketika kami nge-band di kelas XII. Selama dua tahun sebelumnya, band-ku mengalami keterpurukan yang amat sangat, bahkan hampir tidak ada yang menyadari kalau kami satu band. Dengan personil dan nama yang berganti-ganti, akhirnya kami menemukan kekompakan yang paling klop di band Undo ini, dengan personil baru Rayca dan Cornel.

Rayca berada di posisi lead vocal, Cornel di posisi gitar melodi, Teddy sebagai drummer, Eldo sebagai bassist, dan aku di posisi keyboard + backing vocal. Awalnya sih tidak ada backing vocal, tapi justru dengan ada backing vocal itulah, band kami bisa dikenal di seluruh sekolah, dengan lagu pop yang musiknya kami aransemen sendiri, Sempurna.

Memang, lagu ini orisinilnya milik Andra and the Backbone. Karena terlalu mellow, kami mencoba mengaransemen ulang musiknya dengan bantuan pelatih band kami, Bang Agus, dan hasilnya luar biasa. Ketika Valentine Night terakhir kami di SMA Gembala Baik, kami menampilkan lagu itu. Selama satu minggu setelahnya, lagu itu berkumandang di seluruh sekolah, dan nama band kami mulai dikenal.

Lagu ini juga kembali nge-hits ketika kami membawakannya di acara perpisahan sekolah. Saat itu, teman-teman kami menunggu pertunjukan lagu Sempurna dari kami, walaupun kami punya lagu baru. Setelah membawakan lagu baru yang tidak mendapat terlalu banyak respon yang positif, mood penonton naik drastis ketika lagu Sempurna kami bawakan.

Momen-momen itu adalah momen yang tak terlupakan bagi kami. Bahkan, sebelum berpisah, kami sempat berjanji untuk kembali berkumpul dan nge-band bersama lagi. Aku dan Eldo kuliah di UMN Serpong, Teddy di Untar Grogol, Cornel Di Untan Pontianak, Rayca di Singkawang.

Dua tahun lebih sudah berlalu sejak performa kami terakhir kali. Ketika aku melihat konser Kerispatih di Summarecon Mal Serpong, memori-memori lama itu muncul kembali di kepalaku. Kerispatih punya vokalis baru setelah kasus narkoba Sammy, dan bagiku, vokalis baru ini tidak sebagus Sammy. Secara keseluruhan, Kerispatih yang dulu dan band-ku punya passion yang sama. Kami nge-band bukan untuk mencari ketenaran, melainkan untuk menghibur penonton. Band dengan passion seperti itulah yang lebih mampu membuat band menjadi sukses. Aku ingat betul ketika band David dkk mencoba membawakan lagu Sempurna juga di pesta perpisahan. Hasilnya tidak sebaik band kami, karena pertama, aransemennya agak sedikit menjiplak aransemen band kami, dan kedua, passion mereka adalah mencari ketenaran seperti band Jepang bernama L'Arc~n~Ciel.

Mengingat kenangan-kenangan itu, aku kembali mengajak mereka untuk nge-band bareng lagi lewat status Facebook. Aku tidak tahu frekuensi mereka membuka Facebook. Entah kenapa, hanya aku yang memiliki keinginan kuat untuk kembali menggeluti dunia musik dan tarik suara. Yang lain tidak seminat itu. Aku sempat membuat band lagi semenjak kuliah di sini, dan hasilnya gagal total. Personilnya tidak ada yang konsisten dan menganggap band hanya sekadar hiburan, bukan ajang menempa bakat dan minat. Aku punya analisis sendiri akan sikapku yang agak aneh ini, tapi mungkin tidak terlalu penting untuk dijabarkan di blog ini. Yang pasti, band ini, bagiku, adalah salah satu impianku yang terdalam. Aku ingin menjadi seorang pemusik, dan jalan yang kupilih adalah lewat band, tidak peduli apa kata orang lain.

Saat ini, aku hanya berharap, teman-temanku itu tertular semangatku lewat Facebook dan punya harapan yang sama. Aku benar-benar ingin, suatu hari nanti, kami bisa main band bersama lagi, tidak peduli latar belakang kami setelah lulus kuliah nanti. Aku memang sudah kehilangan sense keyboard akibat dua tahun tidak menyentuh alat musik tersebut. Namun, setidaknya, aku masih bisa mendengar keyboard yang dimainkan di setiap lagu yang kudengar dari program Winamp-ku di komputer, dan jika aku harus melatih ulang kemampuanku, aku siap melakukan itu, apapun resikonya. Tidak ada kata terlambat bagiku untuk belajar.

Bahkan, sampai saat ini, masih kuingat jelas aransemen dan kunci lagu Sempurna yang membuat kami tenar sesaat di SMA dulu. Musik itu sayup-sayup masih berkumandang di telingaku, entah karena aku begitu ingin kami memainkan lagi lagu itu atau karena lagu itu punya arti yang begitu mendalam untukku, atau mungkin malah dua-duanya, entahlah... Yang jelas, lirik lagu itu masih begitu membekas dalam pikiranku.

Kau adalah darahku
Kau adalah jantungku
Kau adalah hidupku, lengkapi diriku
Oh, sayangku, kau begitu sempurna...

Jumat, 07 Januari 2011

Stop Degrading Yourself

Ini entah keberapa kalinya saya menulis tentang berpikir positif. Lucunya, sih, tidak ada yang benar-benar menanggapi serius kekuatan pikiran dan perkataan diri sendiri. Bukannya meremehkan atau bagaimana sih, tetapi kebanyakan teman-teman saya selalu berpikir jelek dan menjelek-jelekkan dirinya sendiri. Saya juga pernah seperti itu, sering malah, tapi percayakah Anda bahwa pikiran dan perkataan Anda-lah yang membuat Anda mudah/sulit melakukan sesuatu?

Seringkali kita mengatakan hal-hal ini kepada diri kita sendiri, dan saya akan mengelompokkan kalimat-kalimat yang sering diucapkan oleh kita ketika kita sedang menjelek-jelekkan diri kita sendiri.

Tingkat 1: Tingkatan yang paling ringan. Kalau kita masih mengatakan kalimat ini untuk diri kita, masih sangat mungkin bagi kita untuk segera berubah haluan ke pikiran positif.
- Kayaknya gue ga bisa deh kalo begini.
- Bagus, sih, tapi kayaknya gue ga bisa.
- Ya, gimana, ya? Gue ragu kalo gue bisa.

Tingkat 2: Tingkatan sedang. Di tingkatan ini, sudah mulai sulit merubah jalan berpikir kita, meskipun belum mustahil.
- Gue mah paling ga bisa kalo udah beginian.
- Gue kan paling ga bisa kalo harus ****** (diisi dengan ketidakbisaan Anda, seperti "ngomong di depan publik", "tidur larut malam", "bangun pagi-pagi", dll)
- Loe kan tahu kalo gue ga bisa kerja yang beginian.

Tingkat 3: Tingkat yang paling gawat. Kalau pikiran Anda sudah di sini, hampir mustahil untuk mengubah cara berpikir Anda, karena Anda sudah terlalu ngebet dengan pernyataan-pernyataan ini.
- Gue takut kalo yang gue bikin salah, soalnya gue ga bisa.
- Pokoknya gue paling ga bisa kalau ****** (diisi dengan ketidakbisaan Anda, seperti "ngomong di depan publik", "tidur larut malam", "bangun pagi-pagi", dll)
- Gue mah dari dulu udah tahu kalo yang beginian, karena gue paling ga bisa, titik!

Sadarkah Anda, bahwa dengan mengatakan bahwa "Anda tidak bisa", secara tidak langsung Anda berkata, "Tuhan, kok loe ciptain gue ga bisa, sih?". Ketika Anda berkata, "Gue mah ga bisa kalo harus ngomong di depan umum," versi panjang di balik perkataan Anda adalah, "Ya Tuhan!!! Kenapa sih ciptaan-Mu ini agak kurang-kurang dikit, sih? Koq loe ciptain gue ga bisa ngomong di depan umum sih?!"

Siapa di antara Anda yang percaya Tuhan itu sempurna? Kalau Tuhan sempurna, dan Dia menciptakan manusia menurut gambaran diri-Nya, manusia berarti makhluk yang sempurna, dong. Berhentilah menjelek-jelekkan diri Anda sendiri. Anda mungkin jelek dalam satu bidang, tetapi pasti ada satu bidang yang Anda kuasai dengan baik. Anda bukan tidak bisa dalam mengerjakan suatu hal, Anda hanya kurang ahli dalam mengerjakannya, bukan tidak bisa. Jika Anda terus-menerus mengatai diri Anda tidak bisa, maka Anda akan benar-benar tenggelam dalam pernyataan itu dan seterusnya Anda tidak akan pernah bisa. Karena perkataan itu sudah menyelimuti Anda seluruhnya, Anda tidak akan sadar bahwa ketidakbisaan dalam diri Anda itu akibat perkataan Anda sendiri.

Terus gimana, dong? Mulailah berpikir positif. Anda adalah ciptaan-Nya yang sempurna. Memang sulit untuk membuang pikiran negatif yang terus-menerus berkata "Anda tidak bisa". Namun, tidak ada salahnya mencoba. Jadi, mulai sekarang, ketika Anda menghadapi tugas yang sulit dan hampir mustahil, katakan pada diri Anda, "Saya pasti bisa. Di balik tugas yang sulit ini, pasti ada sesuatu yang indah untuk saya gapai." Ulang terus pernyataan itu setiap kali Anda menghadapi tugas apapun dalam situasi apapun, jangan peduli perkataan orang lain yang mencemooh Anda. Jika Anda terus berpikir "saya tidak bisa", jangan salahkan siapa-siapa kalau suatu hari nanti, Anda tidak berhasil mendapatkan apa yang Anda inginkan, karena pikiran Anda sendirilah yang menjerumuskan Anda, bukan orang lain. Orang lain hanya realitas yang terbentuk dari pikiran Anda. Jika Anda berpikir negatif, sepositif apapun perkataan orang lain, Anda akan terus memaknainya secara negatif. Sebaliknya, jika pikiran Anda positif, kalimat-kalimat negatif akan terdengar seperti suatu berkat di telinga Anda. So, be positive, guys!