Pages

Rabu, 18 Mei 2011

Lelah

Hai, readers, sepertinya gue udah lama nggak nge-blog... Setelah curcol sesaat tempo hari (tempo hari apa tempo hari?), sekarang gue baru sempat nge-blog lagi. Banyak kejadian dalam kehidupan gue akhir-akhir ini, dan nggak mungkin gue post semuanya dalam satu post ini. Gila aja kali gue post semua, karena nggak ada yang terlalu penting. Kalaupun gue post semua, pastinya akan terkesan basi banget. Posting kali ini gue kasih judul "Lelah". Kenapa? Yah, banyak hal yang bikin gue entah kenapa merasa capek banget akhir-akhir ini... Mari kita bahas satu per satu.

Gue baru punya BB, dibeliin sama nyokap gue dengan konsekuensi uang bulanan gue dikurangi, jadi istilahnya kayak gue nyicil buat beli BB sendiri tanpa DP. Bagus sih, dengan ada BB ini komunikasi gue dengan teman-teman gue jadi lancar, dan terutama berguna banget dalam bisnis gue, soalnya jadi lebih enak ngobrol dengan rekan kerja atau pelanggan-pelanggan akupunktur gue. Kadang-kadang, adanya BB ini jadi bumerang juga buat gue, karena gue terkadang tahu hal-hal yang seharusnya nggak gue tahu. Tapi ya sudahlah, itu konsekuensi juga toh? :)

Buku gue baru aja gue revisi setelah melakukan tes pembaca, jadi tampaknya baru akan tiga sampai enam bulan lagi baru bisa terbit tuh buku. Masih banyak lubang menganga dalam cerita yang disadari sama pembaca gue, dan tentunya juga baru gue sadari setelah diberitahu. Gue nggak ngeluh untuk yang satu ini, karena gue mencintai kegiatan tulis-menulis, dan salah satu syarat agar novel gue laku nantinya adalah dengan tes pembaca, supaya gue tahu apa yang masih kurang dan perlu gue tambahin untuk memenuhi keinginan pembaca. Akhirnya Mei ini gue jadi punya kerjaan sampingan juga...

Gue lagi bikin daftar kata scrabble, yang jumlahnya bisa mencapai jutaan kata. Ini salah satu kegiatan yang melelahkan, karena gue senior di UKM English Club di kampus, dan gue udah pernah ikut lomba. List katanya bisa dicari di internet. Awal-awalnya, list kata masih bisa di-copy paste, tapi ujung-ujungnya, gue lebih banyak mengetik ulang kata-kata yang ada karena tidak lagi diurutkan sesuai jumlah huruf dan alfabetnya. Ini diakibatkan oleh website resmi Zyzzyva yang sedang update sehingga word list-nya nggak bisa diakses. Gue nggak yakin ini bisa kelar dalam waktu dekat. Capek bok ngetik-ngetik terus, tapi apa boleh buat... Soalnya nggak bakal ada yang mau gue serahin tugas ini, karena cuma gue yang tahu udah sampai mana gue bikin word list-nya, dan orang lain nggak akan serajin gue untuk men-double check apakah kata yang bersangkutan sudah terdaftar sebelumnya.

Berat badan gue udah meningkat dengan sukses menjadi 61,5 kg, akhirnya... Nggak sia-sia gue fitness selama empat bulan ini, akhirnya mengalami peningkatan berat badan yang cukup signifikan. Tinggal nambah enam kilo lagi dan berat badan gue jadi ideal. Mungkin perlu waktu, tapi nggak apa-apa, toh badan gue udah lumayan berbentuk juga. Pamer dikit boleh dong, gue udah ngabisin banyak biaya buat ngebentuk badan gue jadi ideal selama empat bulan terakhir :)

Gue mulai bosan kuliah. Sepanjang semester kuliahnya begitu-begitu aja, nggak ada perkembangan. Materinya diulang-ulang terus. Gue lebih banyak menghabiskan waktu di kelas dengan BBM-an, Facebook-an, Twitter-an, dan browsing saking bosannya. Gue merasa sia-sia gue bayar mahal-mahal buat kuliah. Gue sekarang kuliah hanya untuk melengkapi absen gue, karena di kampus gue ada batas ketidakhadiran maksimal 3x dalam satu semester. Kalau lebih dari itu, gue nggak bisa ikut UAS. Jadilah gue pakai jatah 3x bolos itu untuk berbagai hal :P

Yang paling bikin gue merasa lelah adalah masalah cinta. Ya, lagi-lagi cinta. Seperti kata Raditya Dika, kalau jatuh cinta bisa bikin tahi jadi rasa cokelat, patah hati atau cinta bertepuk sebelah tangan bisa bikin cokelat jadi rasa tahi. Gue buka bermaksud jorok, tapi itulah kenyataan yang gue alami sekarang. Masih cinta dengan si dia? Nggak terlalu lagi... Istilahnya, perasaan gue ke dia udah mulai pudar sedikit demi sedikit, dan sampai pada tahap di mana gue harus memilih antara menghilangkan perasaan itu selamanya atau berusaha untuk kembali memupuknya. Gue pengen menghilangkan perasaan itu, tapi gue merasa sayang untuk mengakhirinya begitu aja, karena gue belum sampai pada tahap di mana gue berhasil menyatakan perasaan gue ke dia.

Tanggal 2 Mei kemarin, putri pertama dosen sekaligus sahabat terbaik gue lahir. Entah bagaimana, gue merasa sayang banget sama nih bayi. Beberapa kali gue foto dan gue pasang jadi profpic di BBM sampai ada yang nanya-nanya ke gue, ngirain itu saudara gue. Namun, lain dengan rekan-rekan bisnis gue. Mereka tahu dosen gue nggak ada hubungan darah apapun sama gue, tapi mereka tetap menganggap anak dosen gue itu sebagai keponakan gue. Lucu juga, sih, tapi entah gimana gue nggak nolak dianggap begitu, malahan senang.

Kehadiran si kecil ini justru bikin gue makin mempertanyakan diri gue sendiri. Sebenarnya cinta apa sih yang gue harapin? Gue cenderung susah buat jatuh cinta. Gue sendiri bingung dan nggak bisa ngejelasin gimana gue bisa jatuh cinta sama satu cewek untuk waktu yang lama. Pertama kali gue suka sama cewek adalah pas kelas 3 SMP, dan setiap tahunnya, selalu ada cewek yang berhasil menarik perhatian gue. Namun, sampai sekarang, baru tiga yang pernah gue "tembak", dan semuanya menolak. Gue pacaran baru satu kali sampai sekarang.

Gue bukan tipe yang takut akan ketidakpastian. Hubungan cinta itu, gue akui, agak aneh. Terkadang gue bisa merasa sangat tertarik dengan seorang cewek sampai ngejar dia mati-matian, mimpiin dia tiap malam, dan berujung pada sakit hati yang mendalam. Ya, gue tahu ini mellow banget, dan gue nggak bermaksud untuk begitu, tapi yang memang begitu (gimana sih?).

Kedekatan gue dengan dosen gue dan anak bayinya ini bikin gue mempertimbangkan satu lagi wanita untuk masuk dalam kehidupan gue. Masalahnya, kehadiran wanita ini mungkin akan menghancurkan semua memori gue tentang keluarga gue. Gue nggak lebay, memang begitu kenyataannya, karena dosen gue bukan Chinese, dan nyokap gue nggak akan pernah ngizinin gue buat menjalin hubungan dengan orang yang bukan Chinese. Bukan berarti gue suka sama dosen gue (dosen gue cowok dan dia udah PUNYA ISTRI), tapi gue mempertimbangkan adik kandungnya. Dalam sejarah keluarga dosen gue, dari empat bersaudara, dua udah nikah, satunya sebentar lagi nikah, dan satu lagi kuliah di kampus yang sama dengan gue. Semua menantunya Chinese, sedangkan keluarga dosen gue Jawa tulen.

Di sinilah letak kenapa gue merasa lelah. Lelah fisik bisa gue sembuhin dengan istirahat dan suplemen, tapi tidak dengan lelah mental. Gue mempertanyakan diri gue sendiri, sebenarnya apa yang gue mau? Gue berjalan seolah tanpa arah tujuan. Gue bisa mikirin satu cewek lama banget tanpa tahu gimana caranya gue bisa dekat ke dia dan "nembak". Di saat yang sama, gue bisa memasukkan sosok cewek lain yang istilah kasarnya bisa gue jadiin "serep" ke dalam hati gue. Namun, sayangnya, ketika gue sedang patah hati, "serep" itu nggak berfungsi. Gue bukan playboy, tapi entah kenapa gue selalu begitu. Hanya beberapa cewek yang pernah gue suka yang beruntung nggak gue jadiin "serep", dan gue selalu berharap kebiasaan gue nggak kebawa sampai nikah nanti.

Saat ini, gue harus memilih, antara memupuk kembali perasaan itu ke dia, atau membuangnya dan mencoba mencari yang lain. Dia ini Chinese, jadi gue merasa kalau gue bisa dapetin dia, suatu anugerah buat gue karena nyokap gue nggak akan bertanya macam-macam. Jika gue memilih untuk mencari yang lain, gue kembali berhadapan dengan buah simalakama. Hanya satu cewek yang gue pikir bisa gue dekatin saat ini selain si dia, dan PDKT dengan cewek ini bisa berakibat fatal, karena mempertaruhkan cinta gue ke keluarga gue sendiri. Sebagai anak tertua, gue diharapkan oleh nyokap gue bisa ngambil keputusan yang benar-benar bijak, dan gue sendiri nggak ngerti mana keputusan yang benar dan mana yang salah, karena memang pilihan seperti itu selalu ada dalam kehidupan gue. Kali ini, pilihan ini bikin gue lelah secara mental, karena manapun yang gue pilih, rasanya pilihan lain itu akan kandas selamanya. Semua pilihan itu terasa benar, sekaligus terasa salah.

Gue bingung seribu keliling. Gue nggak berani cerita ini bahkan ke teman terdekat gue, karena mereka juga nggak akan membantu dalam memutuskan pilihan. This is my story, dan tugas gue-lah untuk menentukan gimana cerita hidup gue akan berjalan dan berakhir. Masalahnya, jika gue nemu jalan bercabang yang penuh cabang kayak gini, gue nggak akan bisa mutar balik kalau nemu jalan buntu, karena waktu nggak akan bisa diputar kembali... Dan gue nggak mau melakukan kesalahan yang fatal dalam keputusan gue...

Yah, mungkin cukup sekian dulu... Sampai saat ini gue belum bisa ngambil keputusan. Gue hanya bisa melakukan pekerjaan lain yang mengalihkan pikiran gue dari masalah ini untuk sementara waktu, dan kembali menghadapi jalan bercabang yang sama begitu kerjaan gue selesai... Mungkin readers ada saran? Kalau ada silakan comment. Yang jelas, semua saran akan gue pertimbangkan baik-baik. Ujung-ujungnya toh semuanya bergantung sama keputusan gue, karena sekali lagi, this is my story, and I'm the director of my own life.

0 komentar:

Poskan Komentar

Ada kesalahan di dalam gadget ini