Pages

Senin, 19 November 2012

Update in A Century

Hiya, readers. Benter, gue ngitung dulu. Enam bulan gue nggak menjamah blog malang ini. Maaf, ya, blog-ku sayang, sampai diriku melupakan bahwa kaulah yang menjadi tempat menyalurkan hobi menulisku selama ini. Oke, stop, kamera bubar!

Selama lima bulan ini, gue disibukkan dengan berbagai hal. Mulai dari sidang skripsi, ujian laporan magang, revisi skripsi dan laporan magang, ditambah lagi proyek baru di Facebook, membuat gue sangat sibuk dan benar-benar lupa sama sekali dengan kegiatan menulis. Gue lebih banyak main game di emulator daripada nulis sekarang. Can't help it, karena serius nggak kepikiran buat update apa-apa di blog.

Proyek baru ini sebenarnya adalah perwujudan dari impian gue semasa SMA dulu. Gue kepingin bikin RPG (role-playing game), dan kali ini adalah seri Suikoden. Sebenarnya sih banyak arsip proyek-proyek game gue yang terbengkalai di laptop, tak pernah bisa terwujud karena gue nggak bisa programming, hanya bisa menciptakan gameplay dan menulis cerita.

Lewat proyek ini, gue kenal dengan banyak orang yang ikut berbagi suka-dukanya dalam mengurus proyek ini. Masing-masing dengan latar belakang yang berbeda, bahkan ada yang berasal dari luar negeri. Alhasil, ketika membahas proyek, gue ngomong full bahasa Inggris. Mereka juga begitu. Dan selama lima bulan ini, proyek itulah yang membuat gue tetap "hidup". Setelah revisi skripsi gue selesai, gue nggak tahu mau ngapain, belum ada panggilan interview dari sekian banyaknya CV dan surat lamaran kerja yang udah gue kirim. Karena itu, selain rutinitas fitness, gue menyibukkan diri dengan proyek ini. Memang nggak dibayar, tapi gue senang ngerjainnya. Yang penting ketika game ini jadi nanti, ada sesuatu yang bisa gue banggakan dalam hidup gue, karena ini salah satu impian gue.

Dan, lewat proyek inilah, gue menjadi sadar akan satu hal yang selama ini selalu gue coba buang dari diri gue, sesuatu yang selalu gue coba lupakan. Between all my friends in the project, many of the are like me, and they're happy with that fact. Gue pun kembali melihat diri gue sendiri di cermin. Pikiran gue melayang ke salah satu RPG berjudul Persona 4.

Di game tersebut, diceritakan terdapat sebuah dunia lain selain dunia manusia. Dunia itu penuh dengan Shadow, makhluk-makhluk yang tercipta dari cerminan manusia itu sendiri. Masing-masing karakter dalam game tersebut harus berhadapan dengan sisi lain dari diri mereka sendiri. Tapi, yang gue maksud dengan sisi lain ini adalah diri mereka yang sesungguhnya, kenyataan yang selama ini mereka sembunyikan dari orang lain. Ketika mereka terus menyangkal keberadaan diri mereka sendiri, Shadow dari diri mereka akan semakin ganas, dan pada akhirnya berpotensi untuk membunuh mereka di dunia lain tersebut, tanpa ada yang mengetahui bagaimana mereka mati, karena dunia itu hanya bisa dimasuki oleh orang-orang yang terpilih.

Dan, ya, selama ini, gue berusaha untuk membuang kenyataan mengenai diri gue sendiri. Gue tidak pernah jujur dengan diri gue sendiri. Gue takut teman-teman gue akan memusuhi gue ketika gue membuka topeng gue, ketika gue menunjukkan diri gue yang sebenarnya. Namun, teman-teman gue di proyek itu, they give me the true courage. Mereka nggak menganggap diri gue yang sesungguhnya itu sesuatu yang jelek, malah mereka menerima gue dengan tangan terbuka. They accept me the way I am, walaupun gue belum pernah ketemu mereka secara langsung sebelumnya, but really, I cried when I told them the truth about myself.

I'm a bi. I guess there's no need to hide it anymore. Toh semuanya udah tertulis di sini. Satu kata itu menjelaskan kenapa kadang-kadang gue bisa nggak mood banget buat ngejar cewek, malah menyibukkan diri dengan melihat-lihat stok foto teman-teman cowok gue. Sekalinya lagi mood, gue bisa ngejar cewek sampai berkorban banyak.

Gue menulis tulisan ini, bukan untuk menghina diri gue sendiri. Gue bangga dengan diri gue apa adanya. Teman-teman baru gue mengajarkan betapa tidak ada gunanya berusaha menyangkal diri sendiri. You are you. There will be haters, there will be likers, just let them be, because it's your life, not yours. Ini salah satu pelajaran yang paling berharga yang akan gue ingat terus sampai akhir hayat nanti.

Kalau ditanya pasangan, I'll still go with girls, but I don't mind having guys. Bagi yang sudah membaca tulisan ini, you can hate me, but you have to know one important fact. Whoever that person is, whether s/he's straight or not, they're still human beings, and you should treat them like one. And for my new friends, lemme hug you guys for making me realize this thing in life. Mungkin seribu ucapan "terima kasih" pun tidak akan cukup untuk mengekspresikan rasa beruntung gue memiliki kalian. Love you guys.

1 komentar:

Fidelis Frans Muliawan Halim mengatakan...

:) ahia, u r not alone, i'm worse than u r... hahaha

Poskan Komentar

Ada kesalahan di dalam gadget ini